Asrul Sani



Asrul Sani

Asrul Sani lahir di Rao, suatu daerah di sebelah utara Sumatera Barat, pada tanggal 10 Juni 1926. Asrul Sani berasal dari keluarga yang terpandang. Ayahnya adalah seorang raja yang bergelar Sultan Marah Sani Syair Alamsyah yang Dipertuan Sakti Rao Mapat. Meskipun membenci Belanda, ayahnya sangat menggemari musik klasik (aliran musik bergengsi dari Eropa yang tidak biasa didengar oleh penduduk pribumi pada saat itu, apalagi di daerah terbelakang seperti Rao). Oleh karena itu, Asrul patut berbangga hati karena sebelum bersekolah, ia sudah mendengar karya terkenal dari Schubert.

Ibunya adalah seorang wanita yang sederhana, tetapi sangat memperhatikan pendidikannya. Sejak kecil, ia dimanjakan oleh ibunya dengan buku cerita karya pengarang ternama. Ibunya selalu membacakan buku tersebut untuknya. Oleh karena itu, sebelum pandai membaca, ia sudah mendengar cerita "Surat Kepada Raja" karya Tagore.

Dalam perjalanan hidupnya, Asrul pernah menikah dua kali. Yang pertama ia menikahi Siti Nuraini, temannya sesama wartawan, pada tanggal 29 Maret 1951, di Bogor (dan bercerai pada tahun 1961). Yang kedua ia menikahi Mutiara Sarumpaet, 22 tahun lebih muda darinya, pada tanggal 29 Desember 1972. Dari pernikahannya yang pertama, Asrul dikaruniai tiga anak perempuan dan dari pernikahannya yang kedua Asrul dikaruniai tiga anak laki-laki.
Pada masa akhir hidupnya, istrinya, Mutiara Sarumpaet, tetap setia mendampinginya. Asrul yang mulai renta dan duduk di kursi roda tidak menghalanginya untuk tampil bersama Asrul Sani di depan umum dengan mesra. Ketika menghadiri acara pelantikan Prof. Riris K. Toha Sarumpaet, Ph.D. (adik kandung Mutiara) menjadi guru besar di Universitas Indonesia (3 September 2003), Mutiara dengan mesra menyuapi Asrul di atas kursi rodanya.

Asrul memulai pendidikan formalnya di Holland Inlandsche School (HIS), Bukittinggi, pada tahun 1936. Lalu, ia masuk  SMP Taman Siswa, Jakarta (1942), Sekolah Kedokteran Hewan, Bogor (194.). Ia menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1955. Jadi, ia adalah seorang dokter hewan. Akan tetapi, ia tetap memberikan perhatian pada dunia seni (sastra, teater, dan film). Bahkan, di sela-sela kuliahnya, ia masih sempat belajar drama di akademi seni drama di Amsterdam (bea siswa dari Lembaga Kebudayaan Indonesia-Belanda, 1952).

Banyak sekali pekerjaan yang dilakukan Asrul Sani semasa hidupnya. Ia pernah menjadi Laskar Rakyat (pada masa proklamasi), redaktur majalah (Pujangga Baru, Gema Suasana, Siasat, dan Zenith). Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1977—1987), Ketua Lembaga Seniman Kebudayaan Muslim (Lesbumi), Anggota Badan Sensor Film, Pengurus Pusat Nahdatul Ulama,  dan anggota DPR/MPR (1966—1983).

Di dalam dunia sastra Asrul Sani dikenal sebagai seorang pelopor Angkatan ’45. Kariernya sebagai sastrawan mulai menanjak ketika ia bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin menerbitkan buku kumpulan puisi yang berjudul Tiga Menguak Takdir. Kumpulan puisi itu  banyak mendapat tanggapan, terutama judulnya karena mendatangkan beberapa tafsir. Setelah itu, mereka juga menggeberak dunia sastra dengan memproklamasikan “Surat Kepercayaan Gelanggang” sebagai manifestasi sikap budaya mereka. Gebrakan itu memopulerkan mereka.

Sebagai sastrawan, Asrul Sani tidak hanya dikenal sebagai penulis puisi, tetapi juga penulis cerpen dan drama. Cerpennya yang berjudul “Sahabat Saya Cordiaz” dimasukkan oleh Teeuw ke dalam “Moderne Indonesische Verhalen” dan dramanya, "Mahkamah", mendapat pujian dari para kritikus. Di samping itu, ia juga dikenal sebagai penulis esai, bahkan penulis esai terbaik tahun 1950-an. Salah satu karya esainya yang terkenal adalah “Surat atas Kertas Merah Jambu” (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda).
Sejak tahun 1950-an Asrul lebih banyak berteater dan mulai mengarahkan langkahnya ke dunia film. Ia mementaskan “Pintu Tertutup” karya Jean-Paul Sartre dan “Burung Camar” karya Anton P. Cheko. Ia menulis skenario film “Lewat Jam Malam (mendapat penghargaan dari FFI, 1955), “Apa yang Kau Cari Palupi?” (mendapat Golden Harvest pada Festival Film Asia, 1971), dan “Kemelut Hidup” (mendapat Piala Citra 1979).  Ia juga menyutradarai film “Salah Asuhan” (1972), “Jembatan Merah” (1973), dan "Bulan di atas Kuburan" (1973).

Asrul Sani meninggal dunia pada tahun 2004 di Jakarta.

I. Karya Asli
a) puisi
b) cerita pendek
c) drama
d) esai

II. Karya Terjemahan
a) puisi
b) cerita pendek
c) novel (masih berupa naskah)
d) drama (sebagian besar masih berupa naskah)