UKBI

Selamat Datang di Situs Resmi UKBI Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa || UKBI Teruji Lebih Terpuji ||

Semarang - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mewajibkan para pekerja asing asal Tiongkok yang masuk ke industri-industri di wilayahnya untuk menguasai Bahasa Indonesia. Hal ini penting dilakukan untuk memproteksi pekerja lokal di tengah gelombang tenaga asing menjelang pemberlakuan program Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Jawa Tengah Wika Bintang, Rabu (9/9) mengatakan, sesuai surat keputusan Gubernur Ganjar Pranowo, pekerja asing termasuk dari Tiongkok yang ada di Jateng harus menguasai Bahasa Indonesia.

Menurut Wika, pekerja Tiongkok harus fasih berbahasa Indonesia agar kultur mereka membaur dengan kerarifan budaya lokal. Aturan ini mulai diterapkan pada September 2015 atau sejak Gubernur Ganjar Pranowo meneken surat keputusan tertanggal 30 Agustus 2015.

“Kami akan uji coba selama enam bulan ke depan. Bila mereka tidak bisa berbicara pakai Bahasa Indonesia maka bisa ikut kursus yang dibuka oleh Universitas Negeri Semarang (Unnes),” kata Wika.

Pihaknya mengisyaratkan bakal menolak permohonan izin bekerja bagi pekerja asing yang tak mampu menguasai Bahasa Indonesia. “Kalau ngga bisa ngomong Bahasa Indonesia akan kami tunda surat permohonan penempatan kerjanya di Jateng. Pokoknya harus bisa ngomong pakai Bahasa Indonesia,” tutur Wika.

Berdasarkan data Dinsosnakertrans Jateng, sejak Januari-Agustus 2015 jumlah tenaga kerja asing yang ada di 35 kabupaten/kota masih sekitar 1.620 orang. Jumlah ini relatif sedikit, mengingat obyek industri di Jateng mencapai ribuan unit.

“Tapi untuk saat ini kami belum menerima surat pengajuan baru maupun berkas perpanjangan izin kerja asing. Jumlahnya sekarang masih 1.620 tenaga asing,” tandasnya.

Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jateng Joko Santosa mengatakan, pihakya akan membatasi jumlah pekerja Tiongkok yang bekerja di industri tekstil dan garmen.

Pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemilik pabrik untuk memperketat tes kerja bagi tenaga asing. “Ini akan kami jalankan secara bertahap,” kata Joko.

Upaya lainnya, pengusaha tekstil juga berupaya meningkatkan mutu produk skala ekspor. Hal ini dilakukan agar produk tekstil lokal tak kalah bersaing dengan barang impor.

Dijelaskan, API saat ini mendata ada 500.000 buruh tekstil yang bekerja di 50 pabrik di Jateng. Pabrik-pabrik tersebut bergerak di bidang pemintalan benang, penenunan kain, spinning, weaving, dyeing-finishing hingga produksi pakaian jadi (garmen).

“50 pabrik itu yang terdaftar dalam organisasi kami. Padahal di luar itu masih ada sekitar 250 pabrik skala kecil dan menengah yang beroperasi di 35 kabupaten/kota,” ujarnya.

Sumber: beritasatu.com

Layanan Administrasi

Layanan Administrasi Untuk masuk ke halaman Layanan Administrasi Klik Disini.

Data Hasil Pengujian

DATA HASIL PENGUJIAN Untuk melihat data hasil pengujian Klik Disini

Laman Unduh

Hubungi Kami

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun
Jakarta 13220
Telepon: (021) 4750406, 4706287, 4706288
Faksimile: (021) 4750407