Kajian Aspek Sosial: Telaah Sosiologi Sastra terhadap Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari

1.   Karya Sastra dalam Perspektif Sosial sebagai Telaah Sosiologi Sastra

Sastra merupakan suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya serta menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Karya sastra tidak dihasilkan dengan bentuk yang sama persis meski dengan objek yang sama atau sebaliknya. Karya sastra memiliki objek yang berdiri sendiri atau terikat oleh dunia dalam kata yang diciptakan pengarang berdasarkan realitas sosial dan pengalaman pengarang. Karya sastra secara langsung atau tidak langsung dipengaruhi oleh pengalaman dari lingkungan pengarang.

          Sastrawan sebagai anggota masyarakat tidak akan lepas dari tatanan masyarakat dan kebudayaan. Semua itu berpengaruh terhadap proses penciptaan karya sastra. Hal itu sejalan dengan pendapat Pradopo bahwa “Karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial yang ada di sekitarnya.”  Karya sastra tidak hadir dalam kekosongan budaya, tetapi karya sastra dipakai pengarang untuk menuangkan segala persoalan kehidupan manusia di dalam masyarakat. Di samping itu, karya sastra dapat dikatakan sebagai terjemahan perilaku manusia dalam kehidupannya. Misalnya, dalam novel diungkapkan suatu konsentrasi kehidupan pada suatu saat yang tegang dan pemusatan kehidupan yang tegas. Untuk memahami karya sastra yang berkaitan dengan masyarakat atau pun unsur-unsur sosial yang terkandung dalam sastra, dibutuhkan suatu pendekatan atau tinjauan, yaitu sosiologi sastra.

Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologi dan sastra. Sosiologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata sos yang berarti ‘bersama, bersatu, kawan, teman’ dan kata logi (logos) yang berarti ‘sabda, perkataan, perumpamaan’. Sastra terdiri atas dua kata, yaitu sas (Sanskerta) yang berarti ‘mengarahkan, mengajarkan, memberi petunjuk dan instruksi’ dan tra yang berarti ‘alat, sarana’. Dengan merujuk pada definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa keduanya memiliki objek yang sama, yaitu manusia dan masyarakat. Meskipun demikian, hakikat sosiologi dan sastra sangat berbeda, bahkan bertentangan secara dianetral. Sosiologi adalah ilmu objektif kategoris yang membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini (das Sein), bukan apa yang seharusnya terjadi (das Sollen). Sebaliknya, karya sastra bersifat evaluatif, subjektif, dan imajinatif.

       Sosiologi mencoba mencari tahu bagaimana masyarakat bersikap, bagaimana ia berlangsung, dan bagaimana ia tetap ada. Sastra mampu menginterpretasikan segala bentuk gejala sosial, ekonomi, agama, dan politik karena semua itu merupakan struktur sosial yang nyata di masyarakat. Melalui sastra, masyarakat mampu mendapatkan gambaran tentang cara-cara manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya, mekanisme sosialisasi, serta proses pembudayaan yang menempatkan anggota masyarakat di tempatnya masing-masing. Berdasarkan objek telaah tersebut, lahirlah sebuah teori pengkajian sosiologi sastra yang berfokus pada kajian aspek nilai sosial masyarakat di dalam sastra.

      Aspek sosial dalam sosiologi sastra adalah suatu telaah yang objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat dan proses sosialnya. Aspek sosial itu menelaah cara masyarakat itu tumbuh dan berkembang. Endraswara memberikan pengertian bahwa “Aspek sosial dalam sosiologi sastra adalah penelitian yang terfokus pada masalah manusia karena sastra sering mengungkapkan perjuangan umat manusia dalam menentukan masa depannya berdasarkan imajinasi, perasaan, dan intuisi.” Berdasarkan pendapat tersebut, telaah mengenai pola aspek sosial yag lahir dari dalam diri seorang tokoh (manusia) dapat dikaji secara objektif.  Teori sosiologi sastra tidak semata-mata digunakan untuk menjelaskan kenyataan sosial yang dipindahkan atau disalin pengarang ke dalam sebuah karya sastra. Teori tersebut dalam perjalanannya juga digunakan untuk menganalisis hubungan wilayah budaya pengarang dengan karyanya; hubungan karya sastra dengan suatu kelompok sosial; serta hubungan antara gejala sosial yang timbul di sekitar pengarang dan karyanya, termasuk hubungan perkembangan pola perilaku manusia yang membentuk tatanan sosialnya. Oleh karena itu, teori-teori sosiologi yang digunakan untuk menganalisis sebuah karya sastra tidak dapat mengabaikan eksistensi pengarang, dunia dan pengalaman batinnya, serta budaya tempat karya sastra itu dilahirkan.

        Karya sastra dapat dilihat dari segi sosiologi dengan mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan. Kajian sosiologi sastra memiliki kecenderungan untuk tidak melihat karya sastra sebagai suatu keseluruhan, tetapi hanya tertarik pada unsur-unsur sosiobudaya yang ada di dalam karya sastra. Oleh karena itu, sosiologi sastra yang melihat karya sastra sebagai dokumen sosial budaya ditandai oleh (1) unsur (isi/cerita) dalam karya diambil terlepas dari hubungannya dengan unsur lain yang secara langsung dihubungkan dengan suatu unsur sosiobudaya karena karya itu hanya memindahkan unsur itu ke dalam dirinya; (2) pendekatan yang dapat mengambil citra tentang sesuatu, misalnya tentang perempuan, lelaki, orang asing, tradisi, dunia modem, moral, dan latar belakang tokoh dalam suatu karya sastra atau dalam beberapa karya yang mungkin dilihat dalam perspektif perkembangan; dan (3) pendekatan yang dapat mengambil motif atau tema yang terdapat dalam karya sastra dalam hubungannya dengan kenyataan di luar karya sastra. Menurut John Hall (dalam Endaswara), “Aspek sosial dalam telaah sosiologi sastra mencakup (1) moral, (2) etika, (3) keadaan  ekonomi,  (4) cinta kasih, (5) ketaatan beragama, dan (6) latar belakang pendidikan.” Adapun dalam kajian ini aspek sosial menjadi salah satu teori sosiologi sastra yang dimanfaatkan dalam mengkaji novel Orang-orang Proyek karya Ahmad Tohari.

2. Kajian Aspek Sosial (Telaah Sosiologi Satra) dalam Novel Orang-orang Proyek Karya Ahmad Tohari

1)  Etika

Padahal Kabul tidak atau belum siap berubah pandangan terhadap dia. Kalau tidak memakai, rasanya tak enak. Pantaskah uluran tangan seorang teman yang sudah sekian lama bekerja sama disepelekan? (Tohari, 2007: 36)

Dalam kutipan di atas ditunjukkan sikap tokoh Kabul yang menjaga sopan santun terhadap teman perempuannya yang memberikan baju, sarung, sajadah, dan kopiah untuk salat Jumat. Tokoh Kabul tersebut berusaha menjaga etika dengan sesama manusia.

Di kalangan jamaah masjid kampung, Kabul sudah menjadi sosok yang sangat dikenal karena sudah puluhan kali ikut salah jumat di sana. Dan mereka tidak suka menyebut nama. Karena lebih sopan dengan menyebut dia Pak Insinyur atau Pak Pelaksana. (Tohari, 2007: 36)

Dalam kutipan di atas ditunjukkan bahwa penduduk setempat bersikap sopan dan santun terhadap sesamanya di kampung tersebut. Itu termasuk ke dalam aspek sosial etika yang baik.

“Wat, maaf. Aku mau pergi. Ada janji dengan pak Tarya untuk makan pagi di rumahnya. Nah, bagaimana bila kamu ikut sekalian?”

“Tapi aku tak diundang, kan?” Mata Wati membiaskan keraguan. Atau kecewa. (Tohari, 2007: 74)

Kutipan di atas menunjukkan percakapan tokoh Wati dan Kabul. Ketika Wati datang, Kabul yang hendak pergi bersikap sopan dengan mengajak tokoh Wati untuk ikut. Tokoh Wati pun menujukkan etika yang baik ketika diajak oleh tokoh Kabul.

Pembicaraan terpotong karena Basar harus membantu istrinya membagikan hidangan. Dan menyilakan para tamu menikmatinya. (Tohari, 2007: 80)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa tokoh Basar dan istrinya menjamu tamu yang datang ke rumah dan itu termasuk ke dalam aspek sosial etika. Tokoh Basar dan istrinya menujukkan sikap sopan santun kepada tamu yang datang.

Beberapa penduduk yang berpapasan mengangguk hormat. Kades Basar disegani orang. Mungkin karena ayah Basar adalah orang terkaya di desa itu. (Tohari, 2007: 89)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa para penduduk bersikap sopan dan santun dengan cara menghormati orang yang paling disegani karena memiliki jabatan kepala desa.

“Aku percaya kamu. Aku juga akan ikut malu bila punya teman, ya kamu itu, merebut pacar orang. Tapi bagaimana dengan Wati sendiri? Aku dengar dia mulai menjauh dari pacarnya gara-gara kamu.” (Tohari, 2007: 105).

Dalam kutipan di atas ditunjukkan bahwa tokoh Basar memberi tahu temannya bahwa berduaan dengan perempuan yang sudah memiliki pacar adalah etika yang buruk dan bukan kebudayaan di kampung tersebut.

“Kamu boncengan sama Wati. Iya, kan? Tiap hari rantang runtung siang bersama. Juga nonton bareng. Ini kampung Bul. Jadi jangan salahkan orang yang mengatakan kamu ada apa-apa dengan Wati.” (Tohari, 2007: 106).

Kutipan di atas menunjukkan bahwa di kampung tersebut terdapat kebiasaan bahwa lelaki dan perempuan yang berduaan berarti memiliki hubungan khusus. Oleh karena itu, tokoh Kabul kembali menegaskan bahwa etika di kampung berbeda dengan di kota.

“Kula nuwun!” ujar Kang Martasatang di depan pintu kantor proyek. Suaranya bergetar seakan menahan daya ledak. Wati mmebuka pintu dan segera bersitatap dengan dua wajah dingin dan mata tajam.” (Tohari, 2007: 128)

Kutipan di atas menujukkan sikap tokoh Kang Martasatang yang masih berlaku sopan dengan mengucap salam ketika ingin menemui seseorang. Etika tersebut termasuk ke dalam aspek sosial etika yang baik.

Agak terlambat, karena Kang Martasatang dan Wircumplung sudah amukan. Karena gagal memukul Kabul dengan sepotong kayu, kaca-kaca kantor proyek jadi sasaran. (Tohari, 2007: 129)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa tokoh Martasatang menunjukkan etika yang buruk dengan mengamuk di kantor proyek. Itu juga termasuk ke dalam sikap yang tidak memiliki sopan santun.

“Pak Baldun, mohon dipahami, pada dasarnya kami menerima permintaan bantuan yang Anda ajukan. Insya Allah nanti akan tersisa material yang bisa dipergunakan untuk membantu pembangunan masjid. Artinya, kami tidak mengabaikan rekomendasi dan disposisi yang ada dalam surat permohonan ini. Kami hanya minta panitia mau menunggu sampai proyek ini selesai, karena bantuan tidak bisa kami berikan sekarang.” (Tohari, 2007: 141).

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa tokoh Kabul menolak permintaan tokoh Baldun untuk memberikan bantuan dengan cara yang sopan dan tingkah laku yang baik antarsesama penduduk yang hidup dalam satu kampung. Hal itu termasuk ke dalam aspek sosial etika yang baik.

“Baik. Tapi Anda akan saya laporkan ke atas. Saya akan cari data jangan-jangan Anda tidak bersih lingkungan. Sebab indikatornya sudah jelas. Masa iya dimintai bantuan untuk pembangunan masjid Anda banyak berkelit. Cukup. Selamat malam. Dan selanjutnya mungkin Anda tidak bisa mendapat proyek lagi. Atau Pak Dalkijo akan memecat Anda.” (Tohari, 2007: 142).

Kutipan di atas menunjukkan  bahwa tokoh Baldun tidak memiliki etika yang baik setelah mendengar penolakan tokoh Kabul. Sikap sopan santun tokoh Baldun menghilang.

2)      Keadaan Ekonomi

Penduduk setempat menganggap proyek itu dambaan lama yang mulai terwujud. Atau, dan ini sangat mungkin, tontonan saja. Maka semuanya gembira. Mereka sering berbondong ke proyek, terutama sore hari, meski sekadar untuk melihat sesuatu yang baru. Semua orang merasa mendapat hiburan. Atau harapan. Kecuali Paman Martasatang. Lelaki yang sudah belasan tahun mengoperasikan rakit penyebrangan dekat tapak proyek, yakin mata pencahariannya akan hilang bila jembatan sudah selesai dibangun. Untung kesedihan Pamna Martasatang sedikit berkurang karena anak lelakinya bisa ikut bekerja sebagai kuli batu proyek. (Tohari, 2007:16)

Kutipan di atas dapat menunjukkan bahwa latar belakang ekonomi penduduk kampung tersebut adalah tingkat menengah ke bawah karena ada ungkapan tersirat bahwa dengan  adanya proyek seluruh penduduk mendapat pekerjaan menjadi kuli. Hal itu bisa dilihat dari kalimat Untung kesedihan Pamna Martasatang sedikit berkurang karena anak lelakinya bisa ikut bekerja sebagai kuli batu proyek. Itu menunjukkan bahwa selama ini memang penduduk di desa tidak memiliki pekerjaan tetap.

“Entahlah sampeyan, tapi kemiskinan yang disandang kedua orangtua saya ke atas sudah berlangsung sekian generasi. Untung emak saya, penjual jamu gendong, begitu tabah dan tekun mengumpulkan uang dari sen ke sen untuk membiayai sekolah sampai saya lulus insinyur. Ini apa namanya kalau bukan keajaiban. Atau entahlah, yang jelas seakarang saya ada pada posisi bisa memutus rantai panjang kemiskinan yang melilit kami. Saya kini punya kemampuan membalas dendam terhadap kemiskinan yang egitu lama mengnyesaraakan kami. Saya sudah melakukan apa yang dibilang orang sebagai tobat melarat. Selamat tinggal, nasi tiwul, tikar pandan, atau rumah berlantai tanah dan beratap rendah.” ( Tohari, 2007: 29)

Kutipan di atas menunjukkan latar belakang ekonomi tokoh Dalkijo yang sebelumnya memiliki status ekonomi rendah menjadi orang dengan status ekonomi tinggi. Kehidupan yang dijalani oleh tokoh Dalkijo membuat dia menjadi pekerja dalam kelas penguasa sehingga membuat status ekonominya meningkat menjadi lebih tinggi. Karena itu, gaya hidup yang dimiliki tokoh Dalkijo kini pun sudah berubah.

Kabul menikmati suasana yang sangat cair itu melalui jendela kamarnya.dia sering merasa berutang budi kepada Tante Ana. Karena dengan kedatangannya anak-anak proyek mendapat hiburan murah. Mereka, anak-anak proyek itu, adalah generasi yang malang. Kebanyakan mereka meninggalkan bangku sekolah sebelum waktunya untuk masuk ke pasar tenanga kerja demi perut. (Tohari, 2007: 59)

Dalam kutipan di atas ditunjukkan bahwa latar belakang ekonomi para penduduk memang berada dalam kalangan rendah sehingga gaya hidup mereka pun dapat dibuktikan dengan kalimat Karena dengan kedatangannya anak-anak proyek mendapat hiburan murah sehingga kebutuhan hidup para penduduk membuat mereka rela meninggalkan bangku sekolah.

“Bukan itu yang menyebabkan aku ingin menangis. Aminah mengingatkanku akan biyung-nya, ya, biyung-ku dan Samad. Agar bisa menyekolakan kami. Biyung tidak pernah menanak nasi tetapi oyek, semacam thiwul. Biyung kami juga bertani kecil-kecilan sambil jualan klanthing dan ghembus. Jadi aku, juga Samad adikku adalah insinyur-insinyur gembus, insinyur oyek. Tidak lebih..” (Tohari, 2007: 103).

Dalam kutipan di atas ditunjukkan bahwa gaya hidup yang dijalankan oleh tokoh Kabul adalah gaya hidup orang dengan status ekonomi menengah ke bawah. Namun, pendidikan sedikit demi sedikit membuat mereka dapat memenuhi segala kebutuhan hidup. Latar belakang ekonomi rendah yang dimiliki oleh tokoh Kabul membuat dirinya tetap rendah hati.

Kabul ingat saat paceklik di kampungnya, ketika dia masih anak-anak. Suatu hari Biyung menumbuk gaplek banyak-banyak untuk ditanak menjadi nasi inthil. Setelah masak, dikumpulkannya beberapa tetangga yang tungkainya mulai membengkak. Gejala busung lapar. Biyung mencatu mereka dengan nasi inthil dan sayuran selama beberapa hari sampai mereka kembali bertenaga untuk bekerja. Anehnya, Kabul masih ingat, Biyung seakan marah kepada para lelaki yang telah dicatunya itu. (Tohari, 2007: 115).

Kutipan di atas menujukkan latar belakang ekonomi dan gaya hidup ibu tokoh Kabul dan penduduk yang hidup bertetangga dengan tokoh Kabul. Kebutuhan setiap masyarakat pastinya berbeda-beda dan itu yang menandakan bahwa status ekonomi setiap masyarakat juga berbeda. Walaupun keluarga tokoh Kabul hidup dengan status ekonomi menengah, mereka tetap bisa menolong tetangganya yang kelaparan.

Kabul masih merenung. Dia membayangkan keluarga Kang Martasatang; saat ini mereka bisa menanak nasi karena Sawin anak mereka, masih menjadi kuli di proyek. Tapi bagaimana kelak bila jembatan sudah jadi? Jembatan itu memang harus dibangun karena sudah menjadi kebutuhan umum. (Tohari, 2007: 134).

Dalam kutipan di atas ditunjukkan latar belakang ekonomi keluarga Kang Martasatang yang memiliki status ekonomi rendah.

3)      Cinta Kasih

Dan ia pun langsung ke kamar mandi. Selama membersihkan diri Kabul teringat perangkat salat yang wangi itu; siapa yang menaruh di sana? Kabul tahu jawabannya yang pasti benar. Wati. Tulisan di sana cukup menjelaskan semua. Dan agaknya Wati sudah pulang. Tapi kok nganyar-anyari? Jumat-jumat sebelumnya Wati tak pernah peduli apakah Kabul pergi salat atau tidak. (Tohari, 2007: 35)

Dalam kutipan di atas ditunjukkan sikap perhatian tokoh Wati terhadap tokoh Kabul, yaitu dengan memberikan perangkat salat sebagai bentuk cinta kasih yang dimiliki tokoh Wati. Dengan begitu, sudah bisa diketahui bahwa tokoh Wati memiliki perasaan suka terhadap tokoh Kabul.

Dia bangkit dan masuk kamar. Di sana dia mendapati anaknya tergolek tidur sendiri. Ibunya di kamar mandi. Ah, wajah bocah ini tampak begitu tenang. Ketenangan pada wajah tak berdosa itu mengimbas ke hati Basar yang kemudian merebahkan diri di samping si mungil. (Tohari, 2007: 89)

Dari kutipan di atas dapat dilihat bahwa tokoh Basar memiliki aspek sosial, yaitu cinta kasih terhadap anak dan istrinya. Itu bisa dibuktikan dengan kalimat Ketenangan pada wajah tak berdosa itu mengimbas ke hati Basar yang kemudian merebahkan diri di samping si mungil.

Salam untuk Biyung. Entahlah, kata “Biyung” selalu masuk ke hati Kabul bersama perasaan yang sangat dalam. Baginya, “Biyung” tak mungkin tergantikan oleh “Ibu” atau “Mama”. Biyung adalah bumi. (Tohari, 2007: 111)

Dalam kutipan di atas ditunjukkan perasaan saling menyayangi antara tokoh Kabul dan ibunya. Kabul memanggil sosok ibu dengan panggilan biyung yang menandakan bahwa rasa sayang dan cinta kasih Kabul amat dalam terhadap ibunya. 

Wati menoleh perlahan. Mata Wati berkaca-kaca. Senyumnya polos, tapi di mata Kabul malah tampak begitu indah. Ketika mengangguk untuk mengiyakan ajakan Kabul, anggukan ini terasa meruntuhkan hati Kabul. (Tohari, 2007: 203)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa tokoh Kabul dan Wati memiliki perasaan saling suka yang perlahan tumbuh menjadi cinta kasih sekaligus sayang di antara keduanya.

4)      Ketaatan Beragama

Entahlah, karena Kabul harus segera ke masjid kampung yang berjarak satu kilometer dari proyek. Dan seperti biasa, Kang Acep dan Cak Mun ikut numpang jip Kabul/ tapi Bejo dan beberapa temannya lebih suka main gaple. Yang lain ngumpul di warung Mak Sumeh. Ada suara berseru kepada Kang Acep, “Titip absen, Kang!” kemudian menyusul, “Saya lagi datang bulan, jadi nggak bisa ke masjid” (Tohari, 2007: 36)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa tokoh Kabul beserta teman-temannya akan melaksanakan salat Jumat sebagai bukti bahwa mereka merupakan umat muslim yang masih taat dan memiliki keyakinan terhadap agama yang dianutnya meskipun di sekitar mereka masih banyak orang yang menyeleweng dari aturan agama yang harus dipegang.

“Namun semoga Gusti mengampuni mereka” “Ya, Kang,” tanggap Kabul. “Gusti Mahaluas ampunanNya. Lagi pula mereka anak-anak yang malang, anak-anak yang seharusnya masih belajar tapi terpaksa harus bekerja”. (Tohari, 2007: 36)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa tokoh Kabul meyakini bahwa ampunan Tuhan tetap ada. Hal itu merupakan bukti kepercayaan tokoh Kabul terhadap agama dan Sang Pencipta. Itu menunjukkan aspek sosial dengan latar belakang agama.

Seorang lelaki tua membaca khotbah Jumat dari kitab yang mungkin sudah sama tuanya. Atau bahkan lebih tua lagi. Suaranya datar tapi sejuk. Di telinga Kabul, khotbah itu tak mengandung sesuatu yang baru. Dan boleh dikata tak sedikit pun menyentuh peri kehidupan nyata di sekitar masjid. Kabul hanya bisa menikmati dan mengambil manfaatnya sebagai zikir klasik setelah sekian jauh terlibat dalam diskusi-diskusi kritis tentang agama sewaktu masih jadi warga kampus. (Tohari, 2007: 37)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa tokoh Kabul melaksanakan salah satu perintah agama sebagai intuisi yang penting dalam menopang kehidupan.

“Orang-orang di sini percaya bahwa jasad manusia punya mata dan kekuatan yang besar. Maka mereka percaya setiap jembatan atau bangunan besar lain seperti waduk atau bendungan, harus diberi tumbal berupa mayat manusia. Dan tumbal itu konon bisa macam-macam. Kalau disbut jengger atau ayam jantan muda maksudnya adalah perjaka. Kalau disebut babon atau ayam betina maksudnya adalah perempuan dewasa. Dan kalau disebut patik maksudnya adalah anak-anak.” (Tohari, 2007: 133)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa masyarakat setempat masih memercayai sesuatu yang terdengar mustahil. Namun, itu bisa termasuk ke dalam kepercayaan yang meyakini bahwa sesuatu yang dipercayai memang benar adanya.

“Begitulah, Pak Kabul,” kata Baldun penuh percaya  diri. “Karena bantuan yang kami minta ditujukan untuk merenovasi masjid, kami percaya Pak Kabul akan mengabulkannya. Ah, kebetulan anda Insinyur Kabul. Maka bolehlah saya punya keyakinan permohonan kami akan terkabul.” (Tohari, 2007: 138)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa penduduk di kampung tersebut memiliki rasa peduli yang tinggi terhadap tempat ibadah sehingga mereka meminta bantuan untuk merenovasi masjid yang ada. Hal itu bisa digolongkan sebagai aspek sosial ketaatan beragama.

5) Latar Belakang Pendidikan

Tapi menerima Wati memang tidak salah. Pendidikannya lebih dari cukup bila dibanding tugasnya yang hanya urusan administrasi ringan. Wati pernah mengadu untung ke Jakarta. Namun selama setahun mencari pekerjaan, yang didapat hanya peluang kerja di pabrik. Padahal, dia berpendidikan sarjana muda kesekretariatan dan bisa meniperasikan komputer. Jadilah Wati pulang kampung, mengurus administrasi proyek sambil, katanya, menunggu peluang pekerjaan yang lebih baik. (Tohari, 2007: 24)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa tokoh Wati memiliki latar pendidikan yang tinggi. Hal itu dibuktikan dengan kalimat Namun selama setahun mencari pekerjaan, yang didapat hanya peluang kerja di pabrik. Padahal, dia berpendidikan sarjana muda kesekretariatan dan bisa meniperasikan komputer. Dengan latar pendidikan itu pula tokoh Wati bisa mendapatkan pekerjaan.

Sesunguhnya Kabul merasa sama dengan lelaki lain. Ingin segera kawin setelah bisa cari uang. Namun, penghasilan Kabul habis untuk menghidupi Ibu dan terutama kedua adiknya yang masih kuliah. Sama seperti dirinya, hampir jadi insinyur. Aminah, adik bungsunya, kini masuk semester empat fakultas farmasi. Mereka harus tamat meskipun Kabul sendiri terus menunda kawin. Kemelaratan keluarga yang sudah turun temurun harus diakhiri dengan memperbaiki tingkat pendidikan. (Tohari, 2007: 52)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa tokoh Kabul sangat menjunjung tinggi pendidikan. Hal itu dapat dilihat dari tindakan tokoh Kabul yang menguliahkan kedua adiknya sampai rela menunda pernikahannya. Kabul meyakini bahwa hidup melarat harus diperbaiki dengan pendidikan yang baik. Hal itu dapat dibuktikan dengan kalimat Sama seperti dirinya, hampir jadi insinyur. Aminah, adik bungsunya, kini masuk semester empat fakultas farmasi. Mereka harus tamat meskipun Kabul sendiri terus menunda kawin. Kemelaratan keluarga yang sudah turun temurun harus diakhiri dengan memperbaiki tingkat pendidikan.

Kabul hanya bisa tersenyum. Diam-diam dia mengaku kalah. Atau Kabul sering harus mengalah kepada keinginan anak-anak muda itu yang di matanya adalah bagian generasi korban zaman. Zaman salah urus menyebabkan hak anak-anak itu untuk mendapat pendidikan yang cukup tak pernah terwujud. (Tohari, 2007: 73)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa penduduk yang bekerja sebagai kuli proyek  tidak memiliki pendidikan yang layak. Bahkan, mereka terpaksa meninggalkan pendidikan demi mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Yang bener! Itu adikku, Samad, datang kemarin sore. Dia mau pamer karena sudah lulus. Insinyur hidro. Jadi di sini saat ini ada tiga orang dari satu almamater; kamu, aku dan adikku.” (Tohari, 2007: 103)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa tokoh Kabul, Basar, dan Samad memiliki latar pendidikan yang tinggi sebab mereka bisa menyelesaikan perkuliahan dan memperoleh gelar insinyur.

Tanpa basa-basi Basar keluar. Mungkin lupa dirinya sudah jadi kades, bukan lagi mahasiswa seperti empat tahun lalu. Kabul pun bersikap sepadan. Dia melepas tamunya dengan cara khas mahasiswa, tidak ada resmi-resminya. (Tohari, 2007: 107)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa tokoh Kabul dan Basar adalah dua orang yang memiliki pendidikan yang tinggi sebagai lulusan dari salah satu kampus di kotanya. Karena itu, Kabul bisa menjadi insinyur dan memimpin sebuah proyek pembangunan jembatan, sedangkan Basar menjadi kepala desa.

Yos mahasiswa MIPA semester lima. Beberapa buku tentang matematika ada di hadapannya. Namun satu pun tak ada yang terbuka. Kertas catatan pun masih kosong. (Tohari, 2007: 167)

Kutipan di atas menunjukkan tokoh Yos yang sedang menempuh pendidikan di bangku perkuliahan. Hal itu menandakan bahwa tokoh Yos memiliki latar pendidikan tinggi.

Pagi ini kegiatan di proyek baru satu jam dimulai ketika dari arah utara terdengar deru motor besar. Dan siapa pun yang ada di proyek itu segera tahu siapa yang datang. Hanya ada satu motor besar seperti itu yang beberapa kali muncul di proyek dan pengendaranya pun sama; Insinyur Dalkojo, yang mendapat banyak sebutan; Bos Proyek atau Pak Pemborong. Tapi Dalkijo sendiri lebih suka mendapat julukan Koboi. (Tohari, 2007: 196)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa tokoh Dalkijo memiliki latar pendidikan yang tinggi sehingga bisa mempunyai jabatan tinggi dan bisa memimpin proyek. Jabatannya bahkan lebih tinggi daripada tokoh Kabul. Itu berarti tokoh Dalkijo memiliki kekuasaan yang lebih tinggi.

Simpulan

Berdasarkan hasil pengkajian aspek sosial dengan telaah teori sosiologi sastra, novel Orang-Orang Proyek karya Ahmad Tohari mengandung begitu banyak unsur sosiobudaya yang tak pernah bisa dilepaskan dari tatanan kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Penemuan  aspek sosial dalam novel tersebut sejalan dengan tema yang diangkat pengarang mengenai hubungan antarmanusia dan kritik sosialnya. Aspek sosial muncul dan berperan penting untuk menggambarkan setiap tahapan dalam alur cerita. Namun, kemunculannya beragam. Dalam novel Orang-Orang Proyek ini yang lebih sering muncul adalah aspek etika. Aspek tersebut berpengaruh besar terhadap kemunculan konflik, baik itu internal dalam diri tokoh maupun eksternal antartokoh.

Rujukan

Endaswara, Suwardi. 2011. Metodologi Penelitian Sosiologi Sastra. Yogyakarta: PT Buku Seru.

Pradopo, Racmat Djoko. 1993. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: UGM Press.

Tohari, Ahmad. 2007. Orang-Orang Proyek. Jakarta: GPU

Arbi Sanit

Penulis bekerja di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan aktif di Komunitas Warung Apresiasi Sastra.

Sedang Tren

Ingin mengetahui lebih lanjut?

Kunjungi media sosial Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa