Imaji dalam Laras Keperempuanan Ulasan Buku Kumpulan Puisi Di Kedalaman Dadamu* Karya Nina Minareli

Nina Minareli mulai menulis puisi pada tahun 1990-an. Kepenyairannya tumbuh bersama Sanggar Sastra Tasikmalaya (SST). Kala itu SST sedang sangat getol bertanam benih kepenyairan. Diskusi rutin mingguan, pembacaan puisi mingguan di radio, diskusi tentatif dengan mengundang sastrawan, penerbitan buletin mingguan, dan penerbitan antologi puisi bersama memupuk kinarya Nina dalam menulis puisi. Dapat dibayangkan, sampai memasuki tahun 2000-an gairah kesastraan di Tasikmalaya dibangun dalam interaksi dan internalisasi proses yang intensitasnya sangat tinggi.

Buku kumpulan puisi yang berjudul Di Kedalaman Dadamu ini memotret kepenyairan Nina pada rentang waktu itu. Lebih dari itu, dalam beberapa kasus, kehadiran penyair perempuan selalu menarik untuk dicermati. Boleh jadi kehadiran penyair perempuan berkaitan dengan kuasa patriarki yang kuat dalam sistem dan nilai sosial-budaya tempat penyair hidup.  Mungkin kita banyak menemukan kisah penyair perempuan yang produktif menulis sebelum berumah tangga dan entah bagaimana kabar kinarya-nya setelah mereka menikah.

Kehadiran buku kumpulan puisi ini dapat dianggap sebagai penanda elan-krisis. Keberdayaan penyair perempuan dalam kesastraan kita yang mulai tandus memunculkan nama dan karya, terkhusus di Tasikmalaya. Bagai ladang dan pengebun, pada dua dekade ini penyair-penyair baru hampir tak terbaca dari komunitas sastra luring (luar jaringan internet), seperti Sanggar Sastra Tasik. Sang pengebun pun, Acep Zamzam Noor dan Saeful Badar, terlihat lelah mencari benih dan menebar pupuk untuk menumbuhkan kepenyairan baru, baik laki-laki maupun perempuan. Namun, dari aras lain, kesastraan kita bergairah dengan daya dukung komunitas-komunitas sastra daring (dalam jaringan internet), terutama grup-grup sastra di media sosial.

Hal yang menarik adalah kepenyairan yang tumbuh dari kedua rahim komunitas sastra ini memiliki pola persebaran karya yang cenderung berbeda. Boleh jadi kepenyairan yang lahir dari rahim komunitas sastra luring lebih inklusif, reflektif, dan diskursif jika dibandingkan dengan kepenyairan yang berangkat dari komunitas sastra daring.  Inklusif dalam pemolaan gaya kepenyairan disebabkan keniscayaan atas proses, yakni intensitas diskusi antaranggota komunitas, antara pengebun dan benih yang sedang tumbuh.  Sementara itu, akses keterbacaan masih terbatas, yakni melalui media cetak buku dan koran. Reflektif dalam publikasi disebabkan tujuan persebaran karya puisi adalah media massa cetak, bahkan ada juga penyair yang menulis puisi untuk tidak dipublikasikan kepada umum. Selain itu, ada asumsi bahwa penerbitan buku puisi, baik perseorangan atau kelompok, dipandang sebagai sesuatu yang mewah dan suci oleh para penyair muda. Terakhir, diskursif dalam hubungan keterpengaruhan karya antarpenyair, terutama penyair-penyair yang sudah sahih meletakkan wawasan estetika kepuisian Indonesia, kemudian menjadi mainstream bagi para penyair muda.

Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa pola persebaran karya mereka menyasar pada rubrik puisi media massa cetak, seperti koran dan majalah. Saat karyanya termuat di media massa cetak, hal ini menjadi penanda bahwa kepenyairannya mulai diakui di luar komunitasnya. Sebabnya adalah kurasi yang dilakukan redaktur puisi tidak sembarangan memuat karya mereka. Selain itu, karya yang masuk ke redaksi media massa (cetak) begitu banyak sehingga seleksi kualitas dapat terjadi. Barangkali dalam aras kesastraan seperti inilah penyair Nina Minareli tumbuh bersama komunitas sastra luring SST.

Sementara itu, kepenyairan yang tumbuh dalam komunitas sastra daring memiliki pola persebaran karya yang cepat, masif, dan cair. Cepat diartikan bahwa media internet telah membuat karya penyair begitu mudah dipublikasikan, bahkan melalui halaman posting media sosial pribadi atau grup. Masif maksudnya adalah karya puisi dapat diakses pembaca di mana pun dan kapan pun tanpa melalui kurasi, bahkan direplikasi dengan berbagi ulang konten. Terakhir, cair diartikan bahwa karya puisi lebih terbuka menerima wawasan estetika kepuisian karena penyair dapat mengakses beragam model, bentuk, dan aliran puisi melalui fasilitas internet. 

Dalam tegangan dua pola persebaran karya puisi inilah kurasi karya puisi diperlukan oleh komunitas sastra luring dan daring. Hal tersebut menjadi sedemikian teristimewa manakala kita membutuhkan kesegaran pola ucap baru dalam kesastraan, khususnya perpuisian Indonesia. Dalam konteks ini pulalah, buku kumpulan puisi Di Kedalaman Dadamu hadir. Sebabnya adalah hampir semua karya dalam buku ini memuat karya puisi Nina Minareli dalam rentang waktu 1997—2006 yang notabene lahir dari rahim komunitas sastra luring. Selain itu, kedelapan puluh puisi dalam buku ini pernah termuat di media massa cetak. Tentu hal ini menandakan bahwa karya puisi Nina Minareli teruji secara kualitas, setidaknya oleh pembaca khusus, yakni redaktur puisi yang sekaligus berfungsi sebagai kurator puisi di media massa cetak.

Untuk itu, dalam pengantar ini, saya berusaha menampilkan keutuhan wawasan estetika puisi Nina Minareli dengan melihat pemodelan teks puisi yang berhubungan dengan kekuatan bahasa puisi, yakni diksi dan gaya bahasa yang menciptakan pencitraan. Saya memilih kata imaji sebab pencitraan puisi akan berhubungan dengan kemampuan abstraksi belahan kiri otak dalam mewatas pengertian lambang kata dan kemampuan abstraksi belahan kanan otak dalam menciptakan imaji fisis dan psikis yang tersaran pengertian lambang kata di belahan kiri otak.

Diksi dan Gaya Bahasa

Segumpal kata dalam dada, dingin

Tapi mimpi samar-samar tanpa dermaga

(“Mimpi”, 1997: 9)

Satu karakteristik bahasa puisi yang membedakannya dengan prosa, baik cerpen maupun novel, adalah imaji-imaji yang diciptakan oleh diksi dan gaya bahasa penyairnya. Pemodelan teks puisi yang memenggal kalimat menjadi larik demi larik yang menyusun bait mengakibatkan hubungan peristiwa dan makna antarimaji seolah-olah berserakan. Kepejalan ruang dan waktu sebuah puisi dalam rongga-rongga hubungan makna antarimaji yang terjeda pemenggalan larik disusupi bentuk pengalaman dan pengetahuan hidup pembaca. Kita akan memulainya dari sebuah diksi (pemilihan kata) dada yang cukup intens terbaca pada buku kumpulan puisi ini.

Diksi dada bermakna kamus sebagai satu bagian dari anggota tubuh dan bermakna lebih (surplus of meaning) sebagai rumah bahasa yang bersuasana dingin. Hal ini disebabkan kecemasan atas mimpi samar-samar sebagai harapan yang tanpa dermaga atau tujuan akhir. Dua larik tersebut membangun sebuah dunia imaji tentang aku larik puisi.  Menariknya, diksi dada terus membangun dunia aku larik puisi dalam beragam imaji. Ada 21 dunia imaji yang menyertakan diksi dada. Bukan kebetulan juga, diksi dada mendasari pemilihan judul buku kumpulan puisi ini karena memang dunia aku larik puisi berhubungan erat dengan diksi dada.

Kita akan mencoba memasuki beragam dunia imaji atas diksi dada tersebut dalam beragam pengucapan yang berhubungan dengan gaya bahasa aku larik puisi. Gaya bahasa (atau lebih teknisnya permajasan) menjadi pola ucap yang menyiratkan suasana aku larik puisi di dalam dunia imaji. Oleh karena itu, kecenderungan diksi dan gaya bahasa dapat dianggap sebagai modus keberadaan aku larik puisi. Saya sertakan sintagma puisi yang menyertakan diksi dada (21) dalam tabel berikut ini.

Ke-21 diksi dada yang terbaca dalam 16 puisi diungkapkan dengan gaya bahasa metafora (perumpamaan langsung) dari dunia imaji yang dibangun aku larik puisi seperti terbaca pada puisi  “Syair”, 1998: 15; “Sebuah Lirik”, 2003: 47; dan “Di Separuh Sepi”, 2006: 87. Sebagai sebuah umpama dari sesuatu, diksi dada digambarkan dengan personifikasi bertingkat seperti terbaca dalam puisi “Mimpi”, 1997: 9; “Jam Angin”, 1997: 10; dan “Malam yang Bersulang”, 1997: 13.

Selain itu, diksi dada juga diungkapkan dengan gaya bahasa hiperbola (perumpamaan menyangatkan) seperti terbaca dalam puisi “Malam yang Bersulang”, 1997: 13; “Zahri”, 2006: 85; dan “Calang”, 2006: 92.  Ada juga gaya bahasa sinekdoke pars pro toto (perumpamaan dengan menyebut bagian untuk keseluruhan) seperti dalam puisi “Mimpi”, 1997: 9 dan kontradiksi internimis (pertentangan dua atau lebih pernyataan) seperti pada puisi “Jam Angin”, 1997: 10.

Perpaduan gaya bahasa tersebut, terutama personifikasi dan hiperbola, telah membangun perumpamaan utuh (alegori) atas dunia-dunia imaji aku larik puisi. Sekarang kita telah sampai pada dunia imaji puisi dalam laras alegoris. Bahkan, dalam beberapa puisi, alegori kompleks terasa seperti terbaca dalam puisi  “Jam Angin”, 1997: 10; “Syair”, 1998: 15; dan “Kini Aku Jatuh Cinta”, 2001: 32.

Kita akan mengakhiri bagian ini dengan andaian berikut. Ulasan atas diksi dada dalam buku kumpulan puisi tersebut terdukung oleh ungkapan-ungkapan metafora dan hiperbola yang membangun alegori. Sebagai perumpamaan utuh, penafsiran atas puisi berlaras alegoris akan menempatkan diksi dada pada apa yang disebut dengan simbol, yakni perumpamaan yang telah mencapai tahap kemapanan sebagai konvensi bersama komunikasi verbal. Kiranya, bagian akhir tulisan pengantar ini akan membahasnya.

Laras Keperempuanan

Gaya bahasa perumpamaan berdasar pada pemikiran menyamakan ciri, karakter, atau sifat dari dua atau lebih benda, hal, atau peristiwa yang senyatanya berlainan. Sebagai contoh, diksi api dan si Jago Merah merupakan dua benda berbeda. Kedua benda tersebut dipaksa dihubungkan dengan persamaan ciri, karakter, atau sifat masing-masing. Hasilnya, kita mengenal perumpamaan langsung yang disebut dengan metafora dan perumpamaan tidak langsung yang disebut dengan simile.

Perumpamaan, baik metafora maupun simile, ada yang telah berterima dengan pemahaman bersama pengguna bahasa sebuah komunitas. Dengan kata lain, diksi atas perumpamaan tersebut telah disepakati oleh para pengguna bahasa sebagai sebuah simbol. Oleh karena itu, pengguna bahasa dalam komunitas tersebut dapat menafsirkan dan memaknainya. Sebagai contoh, pernyataan malam ini si jago merah telah melahap habis sebuah pasar tradisional berterima dalam interaksi dan komunikasi antarpengguna bahasa.

Untuk itu, ulasan atas diksi dan gaya bahasa pada bagian sebelumnya mesti dibingkai dalam ranah simbolis. Hal ini dilakukan agar ulasan tersebut mendapatkan relevansi pemaknaan yang bersifat sosial-budaya. Bedanya, simbol-simbol dalam karya puisi lebih bersifat khas sebagai ungkapan pribadi penyair, sementara simbol-simbol yang digunakan komunitas pengguna bahasa bersifat umum karena telah disepakati maknanya.

Ulasan atas simbol akan menyasar empat variasi, yakni sirkular (memutar), linear (segaris), digresif (berpendar), dan paralel (sejajar). Keempat istilah ini sesuai dengan prasaran Prof. E. Aminudin Aziz, Ph.D. dalam makalah berjudul “Model Resolusi Konflik Kebahasaan: Sebuah Refleksi Pengalaman”. Makalah tersebut disampaikan pada seminar bertema Kebijakan Literasi Nasional di Universitas Sumatera Utara (USU) pada tanggal 21 Agustus 2021.

Pertama, simbol sirkular (memutar) terjadi dengan membandingkan dua hal yang bertentangan, seperti ada dan tiada, Tuhan dan hamba, langit dan bumi, siang dan malam, lelaki dan perempuan, serta suci dan dosa. Dalam konteks tulisan ini, simbol sirkular menjadi dasar aku larik puisi dalam mengidentifikasi sesuatu di luar dirinya. Yang dimaksud adalah aku larik perempuan yang mencoba memahami identitasnya dengan memahami simbol-simbol yang berhubungan dengan keberadaan laki-laki.

No

Diksi Dada

Gaya Bahasa

1

Segumpal kata dalam dada, dingin

Tapi mimpi samar-samar tanpa dermaga

(“Mimpi”, 1997: 9)

Sinekdoke pars pro toto, personifikasi, dan kontradiksi internimis

2

Ada yang diam di balik perjalanan

Mungkin kabut atau air laut

Melontarkan kegelisahan ikan-ikan

Menyimpan seribu kata-kata di dada

(“Jam Angin”, 1997: 10)

Personifikasi, kontradiksi internimis, dan alegori

3

Detak jam memberat di dada

(“Napas Cuaca”, 1997: 12)

Metafora

4

Pada keringat yang mengucur dalam sesak bau parfum

Mabukku digoyang tarian perempuan gaduh

Yang kini menyemburkan gairah musim di dadamu

(“Malam yang Bersulang”, 1997: 13)

Personifikasi, hiperbola, dan alegori

5

Tanpa kursi akan kusambut engkau

Dengan kalimat-kalimat tak berdaya

Serta hujan yang membasahi dada kota

...

Di sini aku berdiri

Minta ciumanmu lebih tajam lagi

Sebab aku telah menjadikan mereka pengecut

Yang selalu menghitung detak jam serta uang recehan

Setelah berkoar tentang musik kemarin yang menjengkelkan

Lalu menyekapmu kembali di ruang sempit pertanyaan

Hingga dengan dada yang terbuka aku terima amukanmu

(“Syair”, 1998: 15)

Kontradiksi, personifikasi, metafora, dan alegori

6

Engkau adalah musim yang menikam cuaca ke dalam dada

(Engkau, 1999: 17)

Asosiasi, personifikasi, dan metafora

7

Seluruh kota meledak

Di dadaku, sebuah granat

Membentur  tugu, patung-patung

Rel-rel dan jalan-jalan layang

(Kini Aku Jatuh Cinta, 2001: 32)

Hiperbola, metafora, dan alegori

8

Namun betapa ingin kuperas sajak air mata

Di belahan dadamu yang tak hanya mengalirkan madu

Hingga akan selalu kutampung sari langit yang lepas

Dari mawar kata-katamu itu

(Koda, 1998: 36)

Hiperbola, personifikasi, metafora, dan alegori

9

Saat aku bersandar di kedalaman dadamu

Ada gemuruh angin yang menggoncangkan waktu

Ada jalan ke tengah hutan yang tak pernah tergambarkan

Dan masih ada banyak malam yang tak pernah selesai

(Di Kedalaman Dadamu, 1998: 38)

Metafora, personifikasi, dan hiperbola

10

Embun mata ini, kabut jiwa ini, dahaga luluhlantahkan

Sangsaka, syair pujangga, peluru yang melubangi dada

Menggugah napas perang, akrobat di atas ranjang

(“Sebuah Lirik”, 2003: 47)

Hiperbola, personifikasi, metafora, dan alegori

11

Kekasih, rabalah dada ini

Tak usah kau tebak arah kata-kataku

Sebagai teka-teki atau kartu mati

Kekasih rabalah dada ini

(Sajak dari Rumah Sakit Jiwa, 2001: 78)

Personifikasi, metafora, dan alegori

12

Langit telah aku warnai karena peristiwa

Malam yang teramat rawan di dadaku

(Untuk Puisi, 2006: 84)

Hiperbola dan metafora

13

Mungkin kau rindu pada sebongkah dada yang berat

Dari sekedar tarian kata, atau kau rindu ciuman

Yang akan melumat sisi kejantananmu

...

Di dadaku, wajahmu di pulau yang jauh

Tergambar di atas air, meraba sudut cuaca

Mengungsikan ruhku jauh ke tanah jiwamu

(Zahri, 2006: 85)

Metafora, personifikasi, dan hiperbola

14

Dada yang terbelah jadi malam

Igauanku mendengungkan serangga

Syair-syair kutemukan lewat sejengkal kitab

Yang menyusun mimpi-mimpi asing

(Di Separuh Sepi, 2006: 87)

Hiperbola, personifikasi, dan metafora

15

Di dadaku, menghitung jarak sepi

(“Bagi Kekasih”, 2004: 90)

Hiperbola dan metafora

16

Aku mengeram sunyi pada matamu

Yang terasa samar namun bergetar

Kuungsikan ruhku ke dadamu

(Calang, 2006: 92)

Hiperbola dan metafora

 

Kedua, simbol linear (segaris) terjadi dengan membandingkan dua hal karena menyamakan ciri, karakter, atau sifat. Sebagai contoh, kata putih menyimbolkan sesuatu yang pokok, dasar, atau awal; menyimbolkan sesuatu yang bersih dari warna lain; menyimbolkan sesuatu yang belum ternodai; dan akhirnya menyimbolkan sesuatu yang suci. Domain perempuan dengan segala simbolitasnya telah membangun simbol-simbol linear yang menggambarkan keberadaan perempuan, seperti domain perempuan dalam sistem sosial-budaya masyarakat kita yang digambarkan berbatas dapur, sumur, dan kasur.

 

Ketiga, simbol  digresif (menyebar) terjadi dengan membandingkan dua atau lebih hal karena mempertentangkan dan/atau menyamakan ciri, karakter, atau sifat antarhal tersebut. Dapat dikatakan bahwa simbol digresif merupakan simbol kompleks karena menyertakan simbol sirkular secara vertikal dan simbol linear secara horizontal dalam rangkaian hubungan bertingkat. Simbol linear dapur, sumur, dan kasur yang horizontal menggambarkan dunia perempuan akan berhubungan erat dengan pandangan hierarkis yang vertikal pada masyarakat patriarki, misalnya. Hubungan simbolis ini tentu makin kompleks manakala pada masyarakat tersebut terdapat sistem kepercayaan agama, sistem sosial-budaya, sistem ekonomi, sistem politik, sistem pendidikan, dan yang lainnya.


Keempat, simbol paralel (sejajar) terjadi karena simbol-simbol sirkular, linear, dan digresif yang ada pada masyarakat dapat beroperasi dalam sistem simbol masing-masing tanpa perlu lagi berhubungan satu dengan yang lainnya. Simbol-simbol yang menggambarkan keberadaan perempuan dapat dipahami tanpa harus berhubungan lagi dengan simbol-simbol yang menggambarkan keberadaan laki-laki. Dengan kata lain, dalam proses pembentukkannya, simbol yang menggambarkan laki-laki dan simbol yang menggambarkan perempuan telah membangun domain masing-masing. Kedua simbol tersebut dapat hidup berdampingan tanpa harus ditempatkan dalam hubungan hierarkis atau subordinatif.


Sekarang kita dapat memasukkan diksi dada dan gaya bahasa yang menyertainya, yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, ke dalam ragam simbol di atas. Kita dapat menganggap bahwa setiap sintagma puisi yang menyertakan diksi dada merupakan sebuah simbol linear. Maksudnya, diksi dada yang diungkapkan dengan berbagai gaya bahasa tersebut telah membangun peristiwa dan makna dalam sebuah dunia imaji pembaca. Sebagai contoh, sintagma puisi berikut ini sempurna membangun sebuah imaji kisahan tentang diksi dada.

Ada yang diam di balik perjalanan

Mungkin kabut atau air laut

Melontarkan kegelisahan ikan-ikan

Menyimpan seribu kata-kata di dada

(“Jam Angin”, 1997: 10) 

Dengan kata lain, kita dapat menganggap bahwa setiap sintagma puisi membangun imaji kisahan. Dengan demikian, terdapat 21 imaji kisahan atas diksi dada.

Dalam sintagma berikut, simbol linear atas diksi dada disampaikan dalam kombinasi gaya bahasa sinekdoke pars pro toto dan kontradiksi internimis. Diksi dada menjadi simbol tempat kegelisahan aku larik puisi dalam memahami identitas keperempuanan yang dingin. Diksi dada adalah penyebutan salah satu anggota tubuh yang mewakili keseluruhan tubuh fisik dan psikis aku larik puisi seperti terbaca dalam sintagma puisi berikut. 

Segumpal kata dalam dada, dingin

Tapi mimpi samar-samar tanpa dermaga

(“Mimpi”, 1997: 9) 

Sementara itu, diksi mimpi sebagai energi hidup digambarkan tidak memiliki tujuan akhir. Kita percaya bahwa imaji atas mimpi mampu mendorong manusia bergerak dan berbuat menggapainya. Kita dapat menganggap sintagma puisi ini sebagai dua pernyataan yang bertentangan.

Dunia keperempuanan yang digambarkan aku larik puisi makin terasa dingin dalam gaya bahasa hiperbola: //Detak jam memberat di dada// (“Napas Cuaca”, 1997: 12); //Langit telah aku warnai karena peristiwa/Malam yang teramat rawan di dadaku// (Untuk Puisi, 2006: 84); dan //Di dadaku, menghitung jarak sepi// (“Bagi Kekasih”, 2004: 90).  Tentunya, kita bertanya, apa gerangan sebab semua ini? Setidaknya, kita dapat menemukan jawaban dari sintagma puisi //Engkau adalah musim yang menikam cuaca ke dalam dada// (Engkau, 1999: 17).  Sintagma ini menjadi jelas maknanya manakala kita menemukan partisipan orang kedua engkau sebagai mitra bicara aku larik puisi dalam sintagma puisi berikut.

Tanpa kursi akan kusambut engkau

Dengan kalimat-kalimat tak berdaya

Serta hujan yang membasahi dada kota

...

Di sini aku berdiri

Minta ciumanmu lebih tajam lagi

Sebab aku telah menjadikan mereka pengecut

Yang selalu menghitung detak jam serta uang recehan

Setelah berkoar tentang musik kemarin yang menjengkelkan

Lalu menyekapmu kembali di ruang sempit pertanyaan

Hingga dengan dada yang terbuka aku terima amukanmu

(“Syair”, 1998: 15)

 

Meski berjudul “Syair”, partisipan orang kedua engkau dalam sintagma di atas teridentifikasi sebagai laki-laki. Hal ini terbaca dalam sintagma puisi berikut. 

Mungkin kau rindu pada sebongkah dada yang berat

Dari sekedar tarian kata, atau kau rindu ciuman

Yang akan melumat sisi kejantananmu

...

Di dadaku, wajahmu di pulau yang jauh

Tergambar di atas air, meraba sudut cuaca

Mengungsikan ruhku jauh ke tanah jiwamu

(Zahri, 2006: 85)

 

Diksi dada dalam sintagma yang menyertakan aku larik puisi dan partisipan orang kedua engkau menandai peristiwa dan makna dalam kisahan: dunia perempuan yang sepi, dunia aku larik puisi yang terjarak engkau, dunia aku-engkau yang berlatar sebuah kota: //Serta hujan yang membasahi dada kota// (“Syair”, 1998: 15 ).  Bersamanya terdapat tiga imaji atas diksi dada, yakni dada sebagai anggota tubuh; dada sebagai rumah kata, syair, atau puisi; dan dada sebagai bagian dari sebuah tubuh kota. Sintagma yang menyertakan diksi dada ini menandai simbol digresif dalam sebuah sintagma puisi.

Bagaimana tutupan kisahan atas 21 diksi dada ini terjadi? Setidaknya, kita dapat menyertakan dua sintagma berikut.

                Kekasih, rabalah dada ini

Tak usah kau tebak arah kata-kataku

Sebagai teka-teki atau kartu mati

Kekasih rabalah dada ini

(Sajak dari Rumah Sakit Jiwa, 2001: 78)

 

Dada yang terbelah jadi malam

Igauanku mendengungkan serangga

Syair-syair kutemukan lewat sejengkal kitab

Yang menyusun mimpi-mimpi asing

(Di Separuh Sepi, 2006: 87)

 

Sintagma pertama menandai bahwa aku larik puisi mengalami pergumulan yang terkalahkan (rebahlah dada ini) dan sampai pada tujuan yang tidak diharapkan (menyusun mimpi asing). Kedua sintagma ini menegaskan bahwa dari ke-21 simbol linear atas diksi dada berdasar pada simbol sirkular, yakni simbol tentang laki-laki dan perempuan. Perluasan simbol sirkular tentang laki-laki dan perempuan ini sejajar dengan simbol sirkular lain dalam diksi dada,  yakni simbol sirkular syair (atau puisi) dan kata. Syair dianggap sebagai bumi yang berkonotasi perempuan. Sementara itu, kata, baik diksi maupun gaya bahasa, dianggap sebagai langit yang berkonotasi laki-laki. Hal ini sejajar dengan diksi dada yang berkonotasi sebagai bumi perempuan, sementara kata yang turun dari atas dada, yakni dari kepala, berkonotasi langit sebagai laki-laki.  

Kita akhirnya dapat menarik sebuah simpulan bahwa diksi dada yang ada dalam kumpulan buku puisi Di Kedalaman Dadamu karya Nina Minareli diungkapkan dalam berbagai gaya bahasa yang membangun keutuhan perumpamaan dalam laras alegoris. Sementara itu, dalam ranah simbol, diksi dada yang membangun imaji-imaji simbolis keperempuanan dapat dianggap sebagai simbol-simbol digresif dalam laras keperempuanan aku larik puisi. Namun, laras keperempuanan masih cenderung terbaca tersubordinasi oleh simbol-simbol kelaki-lakian. Mungkin, dalam buku kumpulan puisi berikutnya, kita dapat menemukan laras keperempuanan yang bersimbol paralel: kesetaraan langit perempuan dan bumi laki-laki. Tabik!

 

Mangkubumi, 17 November 2021

 

*Buku kumpulan puisi Di Kedalaman Dadamu karya Nina Minareli diterbitkan Basabasi.co tahun 2022. Ulasan ini dibuat untuk pengantar buku tersebut.

 

Nizar Machyuzaar

Penulis, aktif sebagai ketua Mata Pelajar Indonesia. Karya tulis dimuat di laman artikel Badan Bahasa Kemendikbudristek, Koran dan Majalah Tempo, Harian Kompas, Harian Umum Pikiran Rakyat, Bandung Pos, Kabar Priangan, dan beberapa portal berita digital. Karya yang telah dihasilkan adalah buku puisi bersama Doa Kecil (1999), buku puisi tunggal Di Puncak Gunung Nun (2001), dan buku kumpulan puisi bersama Muktamar Penyair Jawa Barat (2003). Terbaru, artikel bahasa dimuat di Kolom Bahasa majalah Tempo, Kolom Bahasa harian Kompas, Wisata Bahasa Pikiran Rakyat, artikel bahasa di beberapa portal berita digital, seperti badanbahasa.kemdikbud.go.id, kapol.id.

Sedang Tren

Ingin mengetahui lebih lanjut?

Kunjungi media sosial Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa