Aku dan Kau Terhubung dengan Dan

Dalam suatu telaah kosakata yang terdapat dalam buku teks bahasa Indonesia didapati bahwa dan merupakan konjungsi yang sering muncul setelah yang. Konjungsi dan serta rekannya, atau, memang merupakan konjungsi yang sering digunakan, baik dalam kalimat sederhana maupun kalimat kompleks. Kata dan merupakan salah satu dari 155 konjungsi yang terdapat dalam bahasa Indonesia. Benar, 155 konjungsi! Jumlah yang luar biasa, bukan? Setidaknya jumlah itulah yang terekam dalam catatan penulis hingga saat ini.


Sumber : dokumen pribadi

Penulis hendak mengambil contoh sederhana penggunaan dan dalam bentuk kalimat sederhana, yaitu Aku dan kau pernah makan bersama di sana. Kalimat sederhana tersebut memuat konjungsi dan yang menghubungkan subjek berupa pronomina aku dan pronomina kau. Dalam konteks kalimat tersebut dan merupakan penghubung antarkata. Dan sangat produktif digunakan karena konjungsi itu dapat menghubungkan antarkata, antarfrasa, dan antarklausa dalam satu kalimat. Sekalipun demikian, perlu diingat bahwa dan bukan konjungsi antarkalimat sehingga kalimat yang dimulai dengan kata dan dipastikan bukan merupakan kalimat yang tepat. Konjungsi dan juga bukan merupakan penghubung antarparagraf sehingga sebuah paragraf tidak dapat diawali dengan kata dan. Kalimat Dan setelah lama menunggu beberapa jam, ia pun akhirnya pergi merupakan contoh kalimat dengan penggunaan kata dan yang tidak tepat.

Kata penghubung yang setara dengan dan adalah kata serta. Dalam penggunaannya, selain dapat digunakan mandiri, kata serta juga digunakan sebagai konjungsi kedua dalam kalimat yang terdiri atas lebih dari tiga klausa yang setara. Berikut ini beberapa contoh penggunaannya dalam kalimat

a. Ia membeli buku, pensil, dan penggaris

b. Paman membeli buku, pensil, dan penggaris serta komputer.

c. Orang tua gadis itu senang sekali serta bangga terhadap prestasi anaknya.

d. Sudah sebulan kami mengarungi laut dan kami amat merindukan daratan yang sejuk serta kehidupan yang normal.

Konjungsi dan pada contoh (a) di atas dapat bergantian (beralternasi) dengan konjungsi serta. Akan tetapi, secara semantis unsur yang dihubungkan oleh dan mempunyai kedudukan yang sama, sedangkan unsur kedua yang dihubungkan oleh serta cenderung ditafsirkan bersifat sekunder atau sesuatu yang berada dalam rumpun objek berbeda sebagaimana terlihat dalam contoh (b).

            Penggunaan konjungsi dan sering serangkai dengan konjungsi atau yang dipisahkan dengan garis miring. Hal ini biasanya muncul dalam penulisan aturan resmi. Konjungsi atau memiliki makna pilihan eksklusif. Akan tetapi, konjungsi atau juga dapat menyatakan makna pilihan inklusif atau pemilihan satu, dua, atau lebih dari dua kemungkinan. Dalam bentuk pilihan inklusif inilah kata atau serangkai dengan konjungsi dan. Contoh penggunaannya sebagaimana dalam kalimat berikut: Angka Kredit adalah satuan nilai dari uraian kegiatan dan/atau akumulasi nilai dari uraian kegiatan yang harus dicapai oleh Widyabasa dalam rangka pembinaan karier yang bersangkutan.

Pada contoh tersebut hal yang termasuk dalam satuan nilai angka kredit dapat berupa uraian kegiatan saja, akumulasi nilai dari uraian saja, atau uraian kegiatan dan akumulasi nilai dari uraian kegiatan Widyabasa. Jumlah pilihan akan berbeda jika digunakan hanya salah satu konjungsi saja, baik dan maupun atau saja.

            Selanjutnya, mari segarkan kembali ingatan kita tentang pengertian konjungsi secara umum. Konjungsi atau yang dikenal pula dengan kata hubung atau kata sambung merupakan kata atau ungkapan yang menghubungkan antarkata, antarfrasa, antarklausa, antarkalimat, atau antarparagraf. Konjungsi disebut juga penanda kohesi, yaitu kata yang menandai keterikatan antarunsur dalam struktur sintaksis atau struktur teks. Konjungsi memiliki fungsi dan peran yang sangat penting dalam setiap bahasa. Secara umum dalam teks tulis ditemukan lebih banyak konjungsi daripada dalam teks lisan. Dalam komunikasi tulis, peran konjungsi sangat penting untuk menghubungkan informasi dalam satu teks sehingga terlihat padu. Kepaduan juga akan meningkatkan keterbacaan teks. Keterbacaan teks pada akhirnya berperan dalam mutu dan manfaat teks bagi pembaca.

            Di luar dari fungsi utamanya, kehadiran konjungsi dalam suatu teks juga akan membuat teks tampil lebih indah dan tidak membosankan. Berikut ini terdapat dua paragraf dengan karakteristik yang berbeda. Paragraf pertama merupakan teks yang ditulis dengan memuat deretan kalimat simpleks tanpa konjungsi. Adapun paragraf kedua merupakan teks yang ditulis secara lazim dengan disertai konjungsi.

Teks Pertama

Senja itu udara masih menyapaku. Sapaannya hangat. Musim hujan berlalu. Kini matahari masih memberi cahaya. Senja berakhir. Aku melakukan sesuatu di stasiun kereta. Ribuan orang  ada di stasiun kereta itu. Mereka melakukan hal sama. Mereka tidak beraturan. Mereka menaiki tangga stasiun. Mereka menuruni tangga stasiun.  Mereka menaiki eskalator. Mereka menuruni eskalator.  Mereka naik lift. Mereka turun lift. Mereka beralih jalur ke kiri. Mereka beralih jalur ke kanan. Mereka berpindah peron ke atas. Mereka berpindah peron ke bawah. Kami berakhir di sini. Kami berdiri manis. Kami menunggu kereta tiba. Laki-laki tampak berjalan bergegas. Perempuan tampak berjalan bergegas. Mereka tidak bergegas. Mereka mungkin tidak mendapat kereta idaman. Kereta seperti apakah? Kereta yang memberi kesempatan duduk. Kereta yang memberi kesempatan berdiri nyaman. Kereta memiliki ketepatan waktu tiba. Dapatkah Anda bayangkan kesibukan di stasiun ini? Kami menanti kereta. Kami ingin mendapat posisi tepat.  Kami para penumpang disiapkan tiga hal sekaligus. Kami disiapkan tangga. Kami disiapkan eskalator. Kami disiapkan lift. (153 kata)

Teks Kedua

Senja itu udara masih menyapaku dengan hangat. Setelah musim hujan berlalu, kini matahari masih memberi cahayanya hingga senja berakhir. Di stasiun kereta itu, apa yang sedang kulakukan sama dengan ribuan orang lain yang secara tak beraturan menaiki tangga stasiun, menuruni tangga stasiun, menaiki eskalator, menuruni eskalator, naik lift, turun dari lift, beralih jalur ke kiri, beralih jalur ke kanan, berpindah peron ke atas atau berpindah ke bawah, lalu berakhir dengan berdiri manis menunggu kereta tiba. Baik laki-laki maupun perempuan tampak berjalan bergegas. Jika tidak bergegas, mereka mungkin tidak akan mendapat kereta idaman. Kereta seperti apakah yang diidamkan? Kereta yang memberi kesempatan untuk duduk atau setidaknya berdiri nyaman dengan ketepatan waktu tiba. Dapatkah Anda bayangkan kesibukan orang-orang di stasiun ini? Untuk mendapat posisi tepat saat menanti kereta, kami para calon penumpang disiapkan tiga hal sekaligus, yaitu tangga, eskalator, dan lift! (139)

Apakah pembaca merasakan perbedaan ketika membaca kedua paragraf tersebut? Penulis merasakan perbedaan tingkat kesulitan, baik saat menulis paragraf tersebut maupun saat membacanya. Kepaduan tampak terlihat pada paragraf kedua. Paragraf pertama tampak tersendat-sendat, malah tidak terlihat lazim. Beberapa kalimat strukturnya jadi tidak lengkap. Hal itu karena informasi yang disampaikan melebihi wadah struktur kalimat sederhana atau simpleks. Selain itu, ternyata tanpa konjungsi, teks justru makin panjang. Dengan konjungsi, unsur-unsur kalimat yang sama dapat dilesapkan. Tanpa konjungsi, unsur kalimat harus muncul semua dalam bentuk kalimat tunggal secara keseluruhan. Jika dicermati, paragraf pertama terdiri atas 153 kata, sedangkan paragraf kedua terdiri atas 139 kata.

Dari uraian sederhana tentang konjungsi dan dapat dipahami bahwa sebagai konjungsi yang produktif, dan memang memiliki fungsi yang sangat strategis untuk mengantarkan dengan sukses informasi dari penulis ke pembaca. Setelah dicoba, sungguh, ternyata tidak mudah menulis tanpa konjungsi. Apakah Anda hendak mencobanya? Saran penulis, mari manfaatkan kekayaan konjungsi dalam bahasa Indonesia untuk menghiasi tulisan dan tuturan Anda!

Dr. Atikah Solihah, M.Pd.

Penulis merupakan Ketua Umum Forum Widyabasa Indonesia bekerja di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Sedang Tren

Ingin mengetahui lebih lanjut?

Kunjungi media sosial Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa