Tradisi Lisan Banjarmasin, Kalimantan Selatan: Lamut

Pengantar

Sampai saat ini masih terdapat masyarakat yang menilai karya sastra adalah sesuatu yang kurang berfungsi. Kalau pun berfungsi karya sastra hanya sebatas hiburan. Faruk, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada Yogyakarta, dalam pertemuan Anggota Majlis Sastra Asia Tenggara Indonesia di Hotel Puncak Raya, Bogor pada tahun 1978 mengatakan bahwa sebagian masyarakat masih memandang bahwa karya sastra hanya sebuah kelilip. Asumsi seperti itu tumbuh karena mereka memandang karya sastra adalah sebuah khayalan semata yang lahir dari imajinasi pengarang. Akan tetapi, dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya yang dimiliki oleh manusia, asumsi bahwa karya sastra adalah sesuatu yang kurang bermanfaat sedikit demi sedikit terkikis. Hal itu terbukti bahwa pada dewasa ini masalah sastra tidak hanya menjadi pembicaraan masyarakat akademis, tetapi telah menjadi bahan pembicaraan di masyarakat luas (umum). Hal itu dapat diketahui dari penelitian-penelitian yang dibiayai oleh proyek pemerintah maupun swasta. Di samping itu, masyarakat juga mulai sadar bahwa sastra adalah bagian dari kehidupan manusia karena dengan sastra manusia dapat mengungkapkan perasaannya, baik secara lisan maupun tulis. Di dalam karya sastra terkandung ungkapan perasaan, pengalaman, ide, cita-cita, dan semangat pengarangnya. Atau, karya sastra merupakan refleksi kehidupan manusia pada masa itu.

     Setiap daerah di wilayah Nusantara memiliki tradisi lisan masing-masing, baik tradisi lisan yang berupa pantun, syair, mantra, maupun berupa prosa rakyat, yakni dongeng, mite, dan legenda. Lamut merupakan salah satu jenis tradisi lisan yang telah lama tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Banjarmasin, Kalimantan Selatan, selain tradisi lisan mandihin, basyair, bakisah, dan bapando (monolog).

       Tradisi lisan Lamut adalah jenis karya sastra tradisional yang berbentuk syair, pantun, dan narasi. Pembacaan Lamut dengan alunan lagu dan diiringi dengan tabuhan tarbang. Tradisi lisan Lamut dilantunkan oleh seorang peLamut dengan memukul alat musik yang bernama terbang atau tarbang. Tradisi lisan itu dibacakan semalam suntuk, yaitu mulai pukul 19.00 sampai dengan pukul 04.00 atau dimulai sesudah salat isya hingga menjelang salat subuh.

 

Sejarah Tradisi Lisan Lamut

Tradisi lisan Lamut berasal dari Muangthai yang dilisankan dengan menggunakan bahasa Cina. Tradisi lisan Lamut datang ke Amuntai, Tanah Banjar pada tahun 1816 yang dibawa oleh para pedagang Cina. Raden Ngabei Surono Joyonegoro, seorang bangsawan dari Yogyakarta bertemu dengan pedagang Cina, pemilik kapal Bintang Tse Cay. Raden Ngabei Surono Joyonegoro melakukan pendekatan dengan saudagar Cina tersebut. Selama mengadakan pendekatan dengan saudagar Cina, Raden Ngabei sering melihat seorang saudagar Cina membacakan syair. Raden Ngabei lalu menanyakan kepada seorang saudagar Cina tentang syair tersebut.

     Hubungan Raden Ngabei Surono Ngabei dengan saudagar Cina itu semakin dekat dan akrab. Kemudian saudagar Cina itu mengangkat Raden Ngabei menjadi saudara angkat. Raden Ngabei bersedia menjadi saudara angkatnya, tetapi dengan  syarat saudagar Cina memberikan syair yang suka dibacanya. Saudagar Cina itu dengan senang hati menyerahkan syair yang suka dibacanya itu kepada Raden Ngabei. Setelah menerima syair itu, Raden Ngabei mengubahnya dengan menggunakan bahasa Melayu Banjarmasin.

        Enam bulan kemudian saudagar Cina itu datang ke Tanah Jawi di Amuntai. Di sana Raden Ngabei membacakan syair itu di hadapan masyarakat  Amuntai. Masyarakat  Amuntai menyenangi syair itu. Syair itu lalu disebut syair Lamut atau Lamut.

        Serombongan orang yang akan merayakan maulid Nabi Muhammad datang ke Tanah Jawi, Amuntai dengan membawa alat musik tarbang. Raden Ngabei melantunkan syair Lamut yang diiringi dengan alat  musik tarbang. Sejak itu, syair Lamut berubah namanya menjadi Lamut yang berasal dari bahasa Arab, yakni dari kata laa dan mauta yang artinya tidak mati atau tidak punah keberadaannya.

 

Fungsi Lamut

Sampai saat ini sebagian orang masih berpandangan keliru tehadap fungsi karya sastra, baik karya sastra tradisional maupun karya sastra modern. Mereka berpandangan bahwa membaca karya sastra hanya membuang-buang waktu atau pekerjaan yang sia-sia. Mereka berpandangan bahwa karya sastra adalah imajinasi pengarang semata yang sama sekali tidak berkaitan dengan realita kehidupan. Pandangan seperti itu perlu diluruskan. Karya sastra merupakan  bagian dari kehidupan manusia. Dengan karya sastra manusia dapat mengungkapkan perasaannya, baik secara lisan maupun tulis. Suhardi (2001:4) berpendapat, seseorang yang memiliki hobi membaca karya sastra berkualitas tidak akan berefek negatif terhadap mentalnya. Pembaca tersebut semakin menjadi manusia yang lebih beradab, manusia yang arif, manusia yang mencintai kebenaran, dan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Heryanto (1984: 35) berpendapat, setiap karya sastra ditulis oleh seorang manusia pada suatu masa dalam sejarah di suatu tempat di dunia. Sejauh-jauh seorang sastrawan hendak mengelak dari segala fakta yang melahirkan, mengasuh, dan mendewasakannya, ia tidak bakal mungkin membuat karya sastra yang sama sekali tidak bersangkut-paut dengan pengalaman, pengetahuan, pikiran, dan perasaannya sendiri”. Kleden (2004: 10) berpendapat, dalam  pandangan fungsional, sastra dianggap sebagai salah satu fungsi dari perkembangan masyarakat dan kebudayaan, seperti halnya keadaan ekonomi, susunan dan bangunan kelas sosial, pembentukan kekuasaan dan distribusi kekuasaan dalam suatu sistem politik, ada tidaknya kebudayaan dominan, atau peran dan kedudukan agama dalam suatu kebudayaan. Aminuddin (1987: 85) berpendapat, manfaat sastra adalah mengandung berbagai macam unsur yang kompleks, antara lain (1) unsur keindahan, (2) unsur kontemplatif yang berhubungan dengan nilai-nilai atau renungan tentang  filsafat, politik, dan berbagai macam kompleksitas permasalahan kehidupan, (3) media pengajaran, baik media kebahasaan maupun struktur wacana, dan (4) unsur-unsur isntrinsik yang berhubungan dengan ciri karakteristik sastra itu sebagai teks.

     Fungsi tradisi lisan Lamut  adalah sebagai hiburan dan pengobatan. Yang tergolong tradisi lisan Lamut sebagai hiburan, antara lain (1) “Bujang Jaya”,  (2) “Bujang Busur”, (3) “Bambang Teja Aria”, (4) “Prabu Awang Selenong”, (5) “Bujang Laut”, dan (6) “Bujang Sakti”. Sementara itu, yang tergolong Lamut pengobatan, antara lain  “Raja Bungsu” dan “Kasanmandi” . Lamut “Raja Bungsu” dilantunkan jika ada orang yang menginkan mempunyai keturunan karena telah lama berkeluarga tidak mendapatkan keturunan. Lamut “Kasamandi” dilantunkan jika ada orang yang menginginkan mendapatkan jodoh. Di samping itu, masih terdapat Lamut lain yang berfungsi untuk mengobati sakit kuning, ayan, diguna-guna, dan kesurupan.

   Dahulu masyarakat Tionghoa sering menanggap Lamut untuk acara nazar. Selain itu, masyarakat Tionghoa juga sering menanggap Lamut sebagai hiburan. Ketika mereka menanggap Lamut sebagai hiburan yang bertemakan perang, Lamut itu harus mengisahkan kemenangan masyarakat Tionghoa dalam berperang. Jika mengisahkan kekalahan mereka dalam berperang, mereka akan marah.

   Lamut yang berfungsi untuk hiburan dan pengobatan mempunyai perbedaan dalam melantunkan. Lamut yang berfungsi  untuk hiburan didahului atau dibuka dengan salam, sedangkan Lamut yang berfungsi untuk pengobatan dibuka dengan salam, permohonan doa kepada Allah subhanahu wata’ala, dan salawat kepada Nabi Muhammad solallahu alaihi wassalam. Kemudian jika akan melantunkan Lamut yang berfungsi untuk pengobatan diperlukan sesajian, seperti menyediakan kue sebanyak 41 macam, telur, beras, jarum, air gula merah, nasi putih dan nasi kuning, serta air santan.  Sementara itu, waktu pelantunan kedua Lamut itu semalam suntuk, yakni dimulai setelah salat isya atau pukul 21.00 sampai dengan menjelang salat subuh atau pukul 04.00. Lamut hiburan dan Lamut yang berfungsi sebagai pengobatan dilantunkan oleh seorang dengan alat musik terbang atau tarbang dan tidak menggunakan pakaian seragam atau pakaian khusus. Selanjutnya,  Lamut hanya dilantunkan oleh orang laki-laki.

     Bentuk tradisi lisan Lamut sebagian berupa puisi tradisional dan sebagian berupa narasi. Tradisi lisan Lamut yang berupa puisi pada umumnya berupa syair dan ada juga yang berupa pantun. Sementara itu, nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi lisan Lamut, antara lain nilai pendidikan atau nasihat, tata kelakuan atau kehidupan masyarakat pada masa itu, dan adat-istiadat masyarakat pada masa itu.

 

Tempat Penyelenggaraan Tradisi Lisan Lamut

Tradisi lisan Lamut pada umumnya diselenggarakan di dalam rumah. Tetapi, tradisi lisan Lamut juga dapat diadakan di balai, di gedung, di tanah kosong atau di pekarangan dengan menggelar tikar atau lesehan. Untuk tempat duduk peLamut dialasi dengan sebuah bantal atau benda lain yang kenyal agar duduk peLamut terasa nyaman.

Alat Bantu dalam Penyelenggaraan Tradisi Lisan Lamut

Alat bantu yang digunakan dalam penyelenggaraan tradisi lisan Lamut adalah alat musik terbang atau tarbang. Pada waktu membawakan cerita, pelamut duduk sila dan alat musik terbang itu ditaruh di atas paha sambil dirangkul. Pukulan tarbang disesuaikan dengan kisah yang disampaikan. Misalnya, jika Lamut sebagai hiburan pukulan terbang tidak terlalu keras dengan nada pak ... pak ... pung. Berbeda dengan Lamut yang  mengisahkan peperangan, pukulan tarbang lebih keras dan lebih cepat. Kemudian pada Lamut pengobatan, penanggap Lamut harus menyediakan sesaji yang berupa nasi putih atau nasi kuning, air santan, air gula merah, kelapa, telur, dan kue sebanyak 40 macam kue.

Tema Tradisi Lisan Lamut

Tema yang terkadung dalam tradisi lisan Lamut adalah masalah keberhasilan seorang tokoh karena memiliki kekuatan supernatural. Karena keberhasilan dan kekuatannya itu, masyarakat memuji-mujinya.

Sekilas Biografi Narasumber

Muhammad Gusti Jamhar Akbar atau lebih dikenal dengan nama Jamhar lahir pada 17 Oktober 1942 di Banjarmasin. Pendidikan yang ditempuh hanya tingkat SR (1947). Pekerjaan sehari-hari pembuat perabot rumah tangga, seperti meja, kursi, dan lemari. Di samping itu, dia juga bertani.

        Gusti Jamhar Akbar mempunyai seorang istri bernama Nur Asyiah. Perkawinannya dengan Nur Asyiah dikaruniai 4 orang anak: dua orang anak perempuan dan dua orang anak laki. Sehari-hari Nur Asyiah adalah ibu rumah tangga. Mereka bertempat tinggal dengan alamat: Alalah Selatan, RT 06, RW 001, No. 34 Banjarmasin.

         Gusti Jamhar Akbar menggeluti dunia seni (Lamut) sejak berusia 13 tahun atau selama 58 tahun dia mengeluti Lamut. Pertama dia mengenal Lamut dengan mengikuti kakek atau eyangnya.

         Muhammad Gusti Hanafiah atau lebih dikenal dengan nama Gusti Nafiah lahir di Kampung Melayu Laut, Banjarmasin pada 23 Februari 1950. Dia menempuh pendidikan akhir di SMA Negeri I Banjarmasin (1968). Dia pernah bekerja sebagai tenaga honorer di Departemen Pariwisata di Banjarmasin, tenaga honorer di Kantor Gubernur sebagai staf khusus, bekerja di agen Maskapai Penerbangan Garuda Piki Kaltarabu Kalimantan Turis & Travel Biro, bekerja di percetakan surat kabar Indonesia Merdeka, bekerja di agen Maskapai Penerbangan Kikidas di Banjarmasin, bekerja di Bioskop Kamajaya, bekerja di Taman Budaya Banjarmasin, bekerja di perusahaan kayu Sipi Blora.

         Pengalaman lain yang pernah ditempuhnya adalah (1) mengikuti PON di Surabaya (1969), (2) mengikuti pertunjukan kesenian di Jakarta Fair (1971), (3) mengajar tari-tarian Banjar dan gamelan pada anak-anakSD, SMP, SMA,dan Fakultas Teknik Banjarbaru. Di samping itu, dia juga pernah menjadi penyiar Lamut di Radio Radek Panorama, Radio Radek Nirwana, dan Radio Republik Indoensia (RRI) Banjarmasin.

         Kesenian yang digelutinya adalah wayang Lamut, wayang kulit banjar, dan gamelan banjar

       Selama pernikahannya dengan Gusti Sampurna Herawati, mereka dikarunia enam orang anak (tiga orang anak laki dan tiga orang anak perempuan. Dari keenam anaknya, empat orang anak sudah berkeluarga. Dia mempunyai cucu 14 orang anak dan satu orang buyut.

       Dari keenam anaknya terdapat lima orang anak yang aktif di dunia kesenian, yaitu Gusti Muhammad Yamani, Gusti Wahyuni, Gusti Yulfian, Gusti Yuliana, dan Gusti Nur Asyiah.

     Gusti Nafiah bertempat tinggal di Kampung Melayu Laut, RT 01, RW 001, Nomor 50, Kecamatan Banjar Tengah, Kalimantan Selatan.    

 

Daftar Pustaka

 Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru.

                 Heryanto, Ariel. 1984. “Sastra, Sejarah, dan Sejarah Sastra”. Dalam Budaya Sastra.

Jakarta: CV Rajawali. 

                 Kleden, Ignas. 2004. Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan Esai-Esai Sastra

dan Budaya. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti.

                Suhardi. 2001. Sastra Kita, Kritik, dan Lokalitas.(Depok: PT Komodo Books.

Muhammad Jaruki

...

Sedang Tren

Ingin mengetahui lebih lanjut?

Kunjungi media sosial Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa