Kantor Bahasa Kepulauan Riau Berkolaborasi bersama Pemerintah Daerah Merevitalisasi Bahasa Melayu
Batam, 1 Maret 2024 — Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan
Bahasa), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
(Kemendikbudristek) terus berkomitmen melakukan pelindungan bahasa dan sastra
daerah sebagai salah satu program prioritasnya. Komitmen ini diwujudkan melalui
program bertajuk Revitalisasi Bahasa Daerah yang pada tahun 2024 akan
dilaksanakan di seluruh provinsi di Indonesia, termasuk Kepulauan Riau, melalui
Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau. Untuk itu, Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau menyelenggarakan Rapat
Koordinasi Antarinstansi Persiapan Revitalisasi Bahasa Daerah di Batam pada 28
Februari s.d. 1 Maret 2024. Dengan melibatkan pemerintah daerah provinsi dan
kabupaten/kota di Kepulauan Riau, kegiatan ini bertujuan untuk membangun
sinergi dan merumuskan kesepakatan bersama para pemangku kepentingan terkait di
daerah.
Rapat koordinasi secara resmi dibuka oleh Sekretaris Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin. “Kemendikbudristek mengapresiasi pemerintah
daerah yang telah memberikan dukungan, motivasi, dan semangat kerja bersama
dalam upaya pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra di
Kepulauan Riau,” tutur Hafidz, di Batam, Rabu (28/2).
Dalam konteks upaya revitalisasi bahasa daerah di Kepulauan Riau, menurut
Hafidz, pendekatan yang tepat untuk diterapkan adalah dengan pewarisan secara
terstruktur melalui pembelajaran di sekolah. Dalam hal ini, pembelajaran
dilakukan secara integratif, kontekstual, dan adaptif, baik melalui muatan
lokal maupun ekstrakurikuler. Adapun sasaran dari pendekatan tersebut meliputi
1) komunitas tutur; 2) guru, kepala sekolah, dan pengawas; serta 3) siswa.
Hafidz menuturkan bahwa program revitalisasi telah dilaksanakan secara
fokus, berkelanjutan, dan berkolaborasi. Sejak tahun 2021 dimulai pada tiga
provinsi untuk 5 bahasa daerah, tahun 2022 di 13 provinsi dengan sasaran 39
bahasa daerah. Tahun 2023 di 26 provinsi dengan sasaran 72 bahasa daerah. Serta
tahun 2024 meningkat di seluruh provinsi dengan sasaran 93 bahasa daerah.
“Kegiatan ini dijadikan sebagai implementasi program Merdeka Belajar
episode ke-17: Revitalisasi Bahasa Daerah, sekaligus menjadi bukti keseriusan
Pemerintah untuk melestarikan salah satu kekayaan dunia agar tidak punah, yaitu
bahasa daerah,” pungkas Hafidz.
Asisten I Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Riau, Arif Fadillah,
menyampaikan dukungan penuh terhadap inisiatif pelindungan dan pelestarian
bahasa daerah ini. “Jangan sampai bahasa daerah ini punah. Kita tidak ingin
anak-anak kita tidak tahu tentang bahasa Ibu mereka. Untuk itu dalam program
ini dibutuhkan koordinasi dan sinkronisasi antara pemerintah pusat dan
pemerintah daerah agar memiliki satu visi,” tutur Arif.
Dalam laporannya, Kepala Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau, Rahmat,
menyampaikan bahwa program Revitalisasi
Bahasa Daerah akan melalui serangkaian tahapan. Dimulai dari rapat
koordinasi sebagai titik awal, hingga nantinya akan bermuara pada Festival
Tunas Bahasa Ibu (FTBI).
Salah satunya, berkolaborasi dengan dinas pendidikan kabupaten/kota, akan
dilakukan pelatihan untuk 251 guru utama yang berperan untuk mengimbaskan
penggunaan bahasa daerah ini kepada guru-guru lain di kabupaten/kota
masing-masing. Pengimbasan inipun akan diteruskan hingga ke anak-anak didik di
sekolah.
“Semoga kita dapat mengikuti praktik baik dari provinsi lain yang sudah
lebih dulu menjalankan program Revitalisasi Bahasa Daerah,” ujar Rahmat.
Melalui program Revitalisasi Bahasa Daerah ini, diharapkan agar para
penutur muda dapat menjadi penutur aktif bahasa daerah yang nantinya memiliki
kemauan untuk mempelajari bahasa daerah dengan penuh suka cita melalui media
yang mereka sukai. Sehingga kelangsungan hidup bangsa dan sastra daerah pun
dapat terus terjaga.
Dukungan Pemerintah Daerah dalam Merevitalisasi
Bahasa Daerah
Pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, di Kepulauan Riau
turut menyadari pentingnya upaya pelindungan dan pelestarian bahasa daerah
Melayu. Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau, Darson,
menyebutkan bahwa program ini harus terus dipertahankan dan dikembangkan.
Menurutnya, salah satu strategi adalah melalui regulasi yang dikeluarkan oleh
pemerintah daerah. “Kita angkat kembali bahasa-bahasa daerah ini kepada
anak-anak dengan masuk ke satuan pendidikan,” ujar Darson.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Tri Wahyu
Rubianto, menyampaikan, “Program ini adalah hal yang baik, mengingat Kepulauan
Riau merupakan sentral pertumbuhan bahasa Melayu yang pada akhirnya berkembang
menjadi bahasa Indonesia.”
Dalam pelaksanaannya, menurut Tri, diperlukan sebuah peta jalan
revitalisasi bahasa daerah yang menjadi pedoman bagi pemerintah, baik pusat
maupun daerah, sehingga kolaborasi yang akan dilakukan semakin terarah dan
memiliki kekuatan tersendiri untuk mencapai tujuan akhirnya. (Stephanie W. /
Editor: Denty, Azis)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Laman: kemdikbud.go.id
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id
#MerdekaBelajar
#RevitalisasiBahasaDaerah
Sumber : Siaran Pers Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor: 47/sipers/A6/III/2024