Pembaca Seumur Hidup, Mengapa tidak?

Membaca merupakan keterampilan yang harus dimiliki oleh seseorang agar mampu menggali informasi dengan baik. Membaca juga dianggap sebagai penentu kesuksesan seseorang. Pembaca yang baik akan selalu memperkaya pengetahuan sehingga dapat menjadikan kehidupannya semakin bahagia. Membaca adalah mengungkapkan suatu imajinasi kepada pembaca yang disukai khayalak ramai dan dimengerti oleh seseorang yang dicintai (Wikipedia). Saat ini pembelajaran membaca pun sudah dikenalkan sejak dini melalui lembar kerja anak atau mengikutkan anak pada les membaca, hanya agar anak dapat membaca. Meskipun demikian, saat menginjak dewasa keinginan membaca seakan hanyut diterpa angin. Apakah karena pengenalan membaca terlalu dini? Ataukah karena generasi tersebut terlahir di era digital?

Membaca berperan penting dalam kehidupan karena membaca adalah jantung pendidikan. Pengetahuan dari hampir semua mata pelajaran di sekolah mengalir dari membaca (Jim Trealease, 2017:24). Oleh karena itu, di daerah perkotaan banyak orang tua yang rela membayar mahal les membaca agar anaknya dapat membaca. Selain itu, buku-buku bacaan rutin diberikan pada anak. Tentu saja, membaca menjadi aktivitas yang digemari. Akan tetapi, bagaimana dengan mereka yang memiliki orang tua yang kurang memahami pentingnya membaca? Bagaimana dengan anak-anak di pedesaan yang sangat minim memiliki bahan bacaan, bahkan anak-anak seringkali lebih memilih berkutat dengan ponsel dari pada sebuah buku? Tanpa disadari, keasyikan bermain ponsel oleh anak-anak telah merenggut waktu berharga untuk membaca. Oleh karena itu, membudayakan gemar membaca media cetak, seperti buku, sangat penting ditanamkan sejak dini. Membaca buku dapat dilakukan melalui kegiatan yang menyenangkan, seperti membaca nyaring.

Manfaat Membaca Nyaring

Membaca nyaring adalah kegiatan membaca yang dilakukan dengan cara membaca keras di depan (Wikipedia). Kelekatan hubungan antara pembaca dan anak akan terjalin melalui membaca nyaring. Kelekatan tersebut memberikan pengalaman bahagia bagi anak. Hal tersebut akan memotivasi anak untuk membaca. Kesan menyenangkan dan tanpa paksaan dalam membaca nyaring menjadikan kegiatan membaca dapat dilakukan seumur hidup. Membaca nyaring menuntut berbagai keterampilan. Menurut Tanaji dalam Ainun Safitri (2008:23), keterampilan membaca nyaring adalah lafal dan intonasi. Membaca nyaring akan membuat anak lebih mudah dalam memahami informasi yang disampaikan oleh pembaca melalui lafal dan intonasi yang sesuai serta ekspresi wajah pembaca. Membaca nyaring merupakan hal yang sangat sederhana, tetapi sangat efektif dalam menumbuhkan budaya baca.

Menurut Tampubulon dalam Jamila, membaca nyaring merupakan kegiatan memvokalisasikan simbol-simbol bahasa yang lepas dari pemahaman isi dalam simbol-simbol bahasa tersebut. Oleh karena itu, bila pemahaman pada bacaan sudah dimiliki oleh anak, ketertarikan anak dalam membaca semakin meningkat. Sebagai contoh, anak usia dini yang belum dapat membaca akan selalu mendatangi orang tuanya untuk dibacakan buku. Selain yang sudah dipaparkan di atas, masih banyak lagi manfaat membaca nyaring. Lalu kapan kita mulai membaca nyaring?

Waktu Tepat Membaca Nyaring

Kemampuan mendengar sudah dimiliki seorang anak saat masih di dalam kandungan, bahkan pola pikir seorang anak terbentuk sejak usia 4 bulan. Sejak itu pula sebaiknya orang tua mulai menanamkan kegemaran membaca melalui membaca nyaring yang dapat dilakukan di waktu luang, sebelum anak tidur, atau kapan pun saat bersama anak. Hal ini dilakukan karena apa yang kita perdengarkan ke telinga anak menjadi fondasi kuat bagi seluruh otak si anak. Suara-suara penuh arti yang ditangkap telinga akan membantu anak memahami kata-kata yang dia dapatkan melalui mata saat dia nanti belajar membaca (Jim Trelease, 2017:39). Karena membaca nyaring sangat mempengaruhi kemampuan membaca seorang anak, orang tua dan guru seharusnya tidak menyia-nyiakan waktu tersebut, terlebih di era digital yang penuh tantangan. Semakin sering membacakan nyaring kepada anak, semakin besar ketertarikan anak pada buku, serta semakin besar pula pengetahuan yang didapat oleh anak. Jadi, sebaiknya membaca nyaring sudah mulai dilakukan di usia balita. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan membacakan buku kepada anak dilakukan saat anak sudah memasuki usia sekolah dasar. Pendidikan keluarga berkaitan erat dengan pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, apabila salah satu lingkungan tidak mendukung, perkembangan bahasa anak menjadi kurang optimal. Sebagai contoh, seorang anak yang sering dibacakan buku di rumah atau di sekolah kemudian tidak pernah lagi mendapatkan pengalaman membaca dan ditambah dengan pekerjaan rumah yang terlalu banyak membuat anak merasa lelah terlebih dahulu sehingga motivasi membaca melemah secara perlahan.

Selain di rumah, sebaiknya membacakan buku secara nyaring kepada anak-anak juga dilakukan di sekolah, meskipun kegiatan itu hanya berlangsung selama 10—15 menit setiap hari. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan akan tercapai, bukan hanya membaca materi saat menjelang ulangan, melainkan membaca menjadi sebuah kebutuhan yang dilakukan seumur hidup. Bagaimana bila tidak ada bahan bacaan?

Masa sekarang ini sudah banyak perpustakaan di daerah-daerah, bahkan di daerah terpencil sekalipun. Ada simpul pustaka yang berkeliling meminjamkan buku. Tidak hanya itu, fasilitas peminjaman buku juga dilakukan oleh komunitas tertentu. Layanan tersebut dapat dimanfaatkan untuk para orang tua dan guru, khususnya di daerah pedesaan atau daerah terpencil sehingga membaca nyaring dapat dilakukan di mana pun dan kapan pun.


DAFTAR PUSTAKA

Jamila. 2014. "Meningkatkan Kemampuan Membaca Nyaring dengan Lafal dan Intonasi yang Benar dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Menggunakan Metode Drill pada Siswa Kelas 1B SDN Tanggul Wetan 02 Jember" Pancaran, Vol.3, No.2.

Safitri, Ainun. "Peningkatan Kemampuan Siswa Membaca Nyaring Melalui Metode Latihan di Kelas III SDN 025 Baruga" Jurnal Kreatif Tadulako Online, Vol. 3, No.2.

Trelease, Jim. 2017. The Read-Aloud Handbook; Membacakan Buku dengan Nyaring, Melejitkan Kecerdasan Anak"Telaah Kritis Dinamika Belajar Anak. Jakarta: Penerbit Noura.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Membaca.


 

Selingan

Daftar Selingan

  • zoonosis = zoonosis
  • work from office = kerja dari kantor (KDK)

  • work from home = kerja dari rumah (KDR)

  • ventilator = ventilator

  • tracing = penelusuran; pelacakan

  • throat swab test = tes usap tenggorokan

  • thermo gun = pistol termometer

  • swab test = uji usap

  • survivor = penyintas

  • specimen = spesimen; contoh

  • social restriction = pembatasan sosial

  • social media distancing = penjarakan media sosial

  • social distancing = penjarakan sosial; jarak sosial

  • self-quarantine = swakarantina; karantina mandiri

  • self isolation = isolasi mandiri

  • screening = penyaringan

  • respirator = respirator

  • rapid test = uji cepat

  • rapid strep tes =t uji strep cepat

  • protocol = protokol

  • physical distancing = penjarakan fisik

  • pandemic = pandemi

  • new normal = kenormalan baru

  • massive test = tes serentak

  • mask = masker

  • lockdown = karantina wilayah

  • local transmission = penularan lokal

  • isolation = isolasi

  • incubation = inkubasi

  • imported case = kasus impor