Merawat Tradisi Leluhur Sastra Lisan Sumatra Selatan dari Perkembangan Zaman


12/14/2016 | Kegiatan

Merawat Tradisi Leluhur Sastra Lisan Sumatra Selatan dari Perkembangan Zaman

Palembang—Pewarisan sastra lisan sudah mendesak dan perlu ditindaklanjuti, meskipun pada kenyataannya, pemerintah kabupaten/kota di Sumatra Selatan belum menjadikan sastra lisan di daerahnya itu prioritas. Hal itu diungkapkan Kepala Balai Bahasa Sumatra Selatan, Aminulatif, M.Pd., saat memberikan sambutan pada acara Saresehan Sastra Lisan Sumatra Selatan di Hotel Emilia, Palembang, Rabu malam, 14 Desember 2016.

Menurut Aminulatif, untuk mendorong apresiasi terhadap sastra lisan tersebut, setiap tahun, Balai Bahasa Sumatra Selatan memberikan kesempatan kepada para pelaku sastra dari setiap daerah di Sumatra Selatan untuk mengikuti festival musikalisasi puisi bagi siswa dan pentas sastra tingkat regional (Sumatra) bagi para pelaku sastra lisan.

Bentuk pelestarian itu tidak hanya sampai pada perhelatan pergelaran, adanya perekaman audio-visual sastra lisan menjadi bentuk pendokumentasian, sekaligus berfungsi sebagai penyediaan data sastra lisan yang siap dikaji dan direvitalisasi dalam bentuk genre yang berbeda.

Selain pendokumentasian sastra lisan dalam bentuk cakram padat (audio-visual), peserta kegiatan juga diajak untuk ikut merumuskan kondisi sastra lisan Sumatra Selatan pada masa kini, prospeknya, dan tantangannya ke depan.  

Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL), Dr. Pudentia, yang menjadi narasumber pada acara itu menuturkan bahwa sastra lisan adalah bagian dari tradisi lisan, yang pewarisannya itu tidak melalui aksara. Selanjutnya, ia mengatakan bahwa saat ini ada tiga tantangan terkait upaya pelestarian tradisi lisan.

“Pertama, kemajuan teknologi yang secara umum sering dikatakan menghalangi keberlangsungan tradisi lisan, padahal teknologi dapat digunakan untnuk mengembangkan tradisi lisan, salah satunya melalui film dokumenter dan bila memungkinkan menjadi film layar lebar,” ujar Pudentia.

“Kedua, makin berkurangnya sumber-sumber tradisi lisan di dalam masyarakat, karena tidak semua anak muda ingin meneruskan tradisi tersebut. Adanya pemikiran bahwa tradisi lisan itu tidak kekinian, pemikiran seperti ini yang ditolak oleh ATL, karena tradisi lisan tidak dipertentangkan dengan sesuatu yang modern, dan tradisi lisan itu justru ada di era modern,” tambah Pudentia

“Kemudian yang ketiga adalah tokoh atau para pelaku sastra semakin sedikit. Ini tantangan terbesar, sehingga sejak 10 tahun lalu, ATL bersama Kemendikbud memiliki program maestro,  yaitu penghargaan terhadap para tokoh yang memelihara tradisi, karena tanpa tokoh-tokoh tersebut tradisi lisan ini mustahil dapat dilestarikan atau dikembangkan lebih lanjut,” tegas Pudentia.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, seorang peserta dari Lahat menyarankan agar kegiatan sastra lisan ini bisa menjemput bola, dengan melakukan kegiatan sastra lisan di sekolah-sekolah, dikemas dengan konsep kekinian dan siswa dikumpulkan, serta dilibatkan langsung pada kegiatan itu.

Pendapat lain diutarakan oleh Erli, peserta dari Musi Rawas, yang menyarankan agar jangan menggantungkan diri  pada pemerintah, “Karena selama ini kami bergerak secara mandiri dengan membentuk komunitas-komunitas kecil, kami ambil juga dari sekolah-sekolah, siswa yang mempunyai potensi untuk dikembangkan,” tuturnya.

Balai Bahasa Sumatra Selatan sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, berupaya untuk turut melestarikan keberadaan sastra lisan dengan cara melakukan berbagai upaya pembinaan dan pengembangan serta penelitian terhadap sastra lisan Sumatra Selatan.

Salah satu upaya tersebut diimplementasikan dalam bentuk kegiatan Pergelaran Sastra Lisan Sumatra Selatan yang dilaksanakan selama empat hari (13— 16 Desember 2016), bertempat di Atrium Palembang indah Mall (PIM) untuk panggung utama dan Hotel Emilia untuk panggung khusus. Panggung utama disediakan untuk menampilkan khazanah sastra lisan yang dimiliki setiap peserta, sedangkan panggung khusus disediakan untuk pendokumentasian sastra lisan setiap peserta.

Kegiatan itu diikuti oleh pelaku sastra lisan dari 17 kabupaten/kota se-Sumatra Selatan. Masing-masing kota/kabupaten tersebut, yaitu Palembang, Banyuasin, Musi Banyuasin, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Lubuklinggau, Empat Lawang, Pagaralam, Lahat, Muara Enim, Penukal Abab Lematang llir (PALI), Prabumulih, Ogan Komering Ulu (OKU), Ogan Komering Ulu Timur (OKUT), Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS), Ogan Komering llir (OKI), dan Ogan llir (OI) yang akan menampilkan khazanah sastra lisan yang mereka miliki.

Setiap daerah hampir selalu memiliki sastra lisan. Berbagai fungsi sastra lisan di dalam masyarakat, antara lain: fungsi rekreatif, didaktif, estetis, moralitas, dan religius. Di balik fungsi-fungsi tersebut, di situlah wajah tradisi leluhur yang perlu kita selisik, agar kita dapat bercermin pada warisan masa lalu yang luhur.

Sastra lisan atau biasa disebut juga dengan sastra tutur tidak lepas dari kegiatan tradisi lisan. Sastra lisan lebih menekankan atau memfokuskan diri pada ragam kesastraannya daripada ritual atau tradisinya. Sastra lisan ada karena memiliki pemilik (atau penutur) sebagai pendukung keberadaanya.

Sastra lisan yang merupakan salah satu genre dari tradisi lisan, mengedepankan teks sastra yang maknanya perlu diwariskan kepada generasi penerus. Proses pewarisan tersebut tidaklah mudah karena bersaing dengan suguhan teknologi informasi yang kian canggih dan siap menggerus segala bentuk tradisi leluhur

Sejak tahun 2000 hingga 2016, berbagai kegiatan yang terkait dengan ranah sastra lisan sudah dilaksanakan oleh Balai Bahasa Sumatra Selatan, di antaranya adalah penyusunan buku kumpulan cerita rakyat Sembesat Sembesit pada tahun 2000, penelitian terkait sastra lisan Sumatra Selatan oleh peneliti Balai Bahasa Sumatra Selatan (2004—2009), inventarisasi sastra lisan (2009), pemetaan sastra (2010—2015) dan yang terbaru adalah visualisasi sastra lisan (2015—2016) di kabupaten Prabumulih, Palembang, Lahat, Ogan Komering Ulu Timur (OKUT), Ogan Komering Ulu (OKU), Banyuasin, dan Ogan llir. (an)