Homonim dan Polisemi

Dalam ilmu bahasa kita kenal istilah homonim dan polisemi. Kedua istilah itu sering dianggap sama. Benarkah begitu?

Kedua istilah itu sebenarnya mempunyai perbedaan. Homonim merupakan kata yang sama lafal dan ejaannya, tetapi berbeda maknanya karena berasal dari sumber yang berlainan. Kata kunci untuk homonim adalah sumber yang berbeda. Perhatikan contoh berikut!

  1. Ardi bisa mengerjakan soal itu dengan mudah.
  2. Bisa ular itu sangat berbahaya.

Kata bisa pada kedua kalimat di atas berbeda. Kata bisa pada kalimat (1) berarti ‘mampu atau dapat’, sedangkan bisa pada kalimat (2) berarti ‘zat racun’. Kedua kata itu berasal dari sumber yang berlainan. Berdasarkan hal itu, kata bisa termasuk homonim, bukan polisemi.

Polisemi merupakan bentuk bahasa (kata, frasa, dsb.) yang mempunyai makna lebih dari satu. Makna lebih dari satu tersebut terjadi karena adanya beberapa konsep dalam pemaknaan suatu kata. Misalnya, kata akar bermakna (1) ‘bagian tumbuhan yang biasanya tertanam di dalam tanah sebagai penguat dan pengisap air serta zat makanan’; (2) ‘asal mula, pokok, pangkal yang menjadi sebab (kiasan)’; (3) unsur yang menjadi dasar pembentukan kata’. Perhatikan contoh di bawah ini!

  1. Akar pohon itu mengganggu bangunan.
  2. Kita harus mencari akar masalahnya agar dapat menyelesaikan kasus itu dengan baik.

Kata akar pada kalimat (3) berarti ‘bagian tumbuhan yang biasanya tertanam di dalam tanah sebagai penguat dan pengisap air serta zat makanan’ dan kata akar pada kalimat (4) berarti ‘pokok atau pangkal’.