Judul: Citra Perempuan dalam Geguritan Puyung Sugih

Penulis: Ni Nyoman Tanjung Turaeni

Subjek: Bahasa Bali-Sosiolinguistik

Jenis: Tesis

Penerbit: Denpasar: Program Pascasarjana, Universitas Udayana

Tahun: 2008

Abstrak

Tesis ini bertujuan untuk menambah khazanah penelitian di bidang sastra khususnya kritik sastra feminis dan mengungkapkan citra perempuan dalam geguritan di Bali. Geguritan Puyung Sugih (GPS) merupakan karya sastra Bali tradisional, cukup menarik untuk diteliti karena memuat konsep-konsep moral terkait dengan ajaran agama Hindu yang disampaikan melalui tokoh perempuan. Berkaitan dengan hal tersebut, penelitian ini difokuskan pada citra perempuan yang bagaimana digambarkan dalam GPS. Selain itu, bagaimana hubungan intertekstualitas GPS dengan teks lain sebagai karya transformasi dari teks-teks tersebut.  Penelitian ini menggunakan kritik sastra feminis dan teori intertekstualitas. Kritik sastra feminis digunakan untuk mengkaji permasalahan seperti tersebut di atas. Kajian perempuan dalam karya sastra pada dasarnya berkaitan dengan feminism, yaitu pengkajian perempuan dalam dunia sastra yang tidak terlepas dari nilai-nilai patriarkat yang menilai  suatu karya sastra berdasarkan pengalaman pria. Pandangan-pandangan patriarkat seperti diuraikan dalam penelitian ini memengaruhi pula citra perempuan dalam karya sastra.

Metode yang diterapkan dalam penelitian ini yakni (1) metode pengumpulan data melalui kepustakaan dan wawancara, dilengkapi dengan teknik mencatat, (2) metode analisis data yang bersifat deskriptif dilengkapi dengan teknik terjemahan, dan (3) metode penyajian hasil analisis dengan metode hermeneutika.

Simpulan yang dituangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. GPS merupakan karya sastra Bali tradisional yang menggunakan beberapa jenis pupuh, yaitu Pupuh Ginada, Pupuh Ginanti, Pupuh Durma, Pupuh Sinom, Pupuh Pangkur, Pupuh Mijil, Pupuh Dandang Gula, Pupuh Pucung, Pupuh Adri, Pupuh Gambuh, Pupuh Demung, dan Pupuh Megatruh. Penempatan pupuh-pupuh tersebut disesuaikan dengan suasana cerita menurut watak masing-masing pupuh. Dari beberapa jenis pupuh yang digunakan, pengarang tidak melupakan ketentuaan yang berlaku bahwa setiap pupuh mempunyai aturan yang berbeda menurut padalingsa-nya. Dari segi pemanfaatan dalam GPS yaitu kosakata bahasa Bali sebagai unsur yang paling dominan digunakan, bahasa Jawa Kuno Bahasa yang digunakan adalah bahasa Bali bercampur kosa kata bahasa Jawa Kuna dan bahasa Indonesia. Pemakaian bahasa tersebut diwarnai pula oleh sarana stilistika yang meliputi pemanfaatan aspek bunyi, pemanfaatan kosa kata dan pemanfaatan majas. Pemanfaatan majas, banyak digunakan majas perbandingan dengan gaya perumpamaan dan metaforis dengan menggunakan kata penanda seperti kata kadi ‘bagaikan’.

Struktur GPS terdiri atas tiga bagian, yaitu (1) awal (prolog), (2) isi (corfirmatio), dan (3) akhir (epilog). Berdasarkan analisis ditemukan bahwa citra perempuan yang digambarkan pengarang dalam GPS, citra perempuan setia, perempuan ideal, tabah, dan berani.  Di samping penggambaran citra perempuan melalui tokoh utama, perempuan, juga mengungkapkan permasalahan perempuan melalui yang terlihat melalui percakapan antartokoh. Sebagai karya sastra transformasi dari teks-teks lain, dalam GPS ditemukan adanya konsep dasasila, yang merupakan penjabaran dari Tri Kaya Parisudha (Wacika, Kayika dan Manacika). Tiga dasar yang harus disucikan yang berhubungan dengan pikiran, perkataan, dan perbuatan ditransformasikan melalui dialog antartokoh dalam GPS. [ALOY/a]