Judul: Antologi Sastra Lisan Ekagi (Paniai)

Penulis: Dharmojo, dkk.

Subjek: Antologi Sastra

Jenis: Laporan Penelitian

Tahun: 1995

Abstrak

Masyarakat Ekagi mendiami tujuh dari 17 kecamatan di Kabupaten Paniai, terletak di kawasan Teluk Cenderawasih, Papua. Kabupaten Paniai berbatasan di sebelah utara dengan Kabupaten Yapen Waropen, di sebelah selatan dengan Kabupaten Fakfak, di sebelah timur dengan Kabupaten Jayawijaya, dan di sebelah barat dengan Kabupaten Manokwari. Ketujuh kecamatan yang menjadi populasi lokasi penelitian adalah Kecamatan Paniai Timur, Paniai Barat, Agadide, Tigi, Kamu, Mapia, dan Kecamatan Uwapa.

Mengumpulkan sastra lisan Ekagi sebanyak-banyaknya perlu dilakukan mengingat sastra daerah mempunyai kedudukan dan fungsi penting sebagai penunjang perkembangan bahasa daerah dan sebagai pengungkap alam pikiran serta sikap dan nilai kebudayaan masyarakat pendukungnya. Selain itu, sastra lisan Ekagi masih dalam bentuk lisan, belum tertulis, dengan jumlah penutur yang semakin berkurang, yang dikhawatirkan jika dibiarkan berlarut-larut maka akan punah. Oleh karena itu, perlu dilakukan pendokumentasian dalam bentuk tulisan secara tuntas untuk tindakan penyelamatannya, sekaligus sebagai bahan penelitian selanjutnya. Selanjutnya sastra lisan tersebut perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kemudian mendeskripsikan latar belakang sosial budayanya, bahasanya, penutur ceritanya, dan tujuan bercerita. Antologi dilakukan khusus terhadap sastra lisan jenis prosa.

Antologi ini mengambil kerangka teori penelitian lapangan dari James Danandjaya; pendapat Andrew Lang, Mac Culloch, dan Hartland, bahwa sastra lisan merupakan lukisan perjuangan hidup dan pengalaman masyarakat lama; pendapat Thompson bahwa kebiasaan lama dan kepercayaan dari semua macam yang ditampilkan sastra lisan, perlu mendapat perhatian; dan sastra sebagai ide pengarang dapat sebagai pedoman bagi orang banyak, untuk memberi pikiran, membentuk norma, baik pada orang sezamannya maupun untuk mereka yang kelak menyusul, sebagaimana dikemukakan Robson.

Metode yang digunakan ialah deskriptif dengan teknik perekaman tuturan informan memakai tape recorder. Data tersebut ditranskripsikan dalam bahasa daerah Ekagi kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atas bantuan informan dengan menjaring data tentang deskripsi latar belakang sosial budaya sastra lisan yang meliputi sosial budya, bahasa, penutur cerita, dan tujuan bercerita. Pengumpulkan data ini dengan cara menyebarkan angket, wawancara terbuka, serta observasi untuk melengkapi data yang diperlukan.

Sastra Ekagi pernah dicatat dan didokumentasikan oleh misionaris Katholik, S. Hylkena OFM (1972) ke dalam bahasa daerah dan bahasa Belanda, namun tidak sampai tuntas, sedangkan penelitian serius belum pernah dilakukan orang lain. Kegiatan antologi ini berhasil mengumpulkan/mencatat dalam bahasa daerah Ekagi dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebanyak 50 cerita rakyat Ekagi jenis legenda, mite, dan dongeng. Kemudian dapat diungkap pula bahwa sastra lisan Ekagi masih hidup dan dipergunakan masyarakatnya dalam upacara adat tertentu, mengisi waktu luang pada sore atau menjelang tidur, atau saat melepas lelah ketika bekerja siang hari.

Hambatan yang dihadapi ketika pengumpulan cerita rakyat Ekagi adalah (1) banyaknya ragam bahasa Ekagi yang dipergunakan informan sehingga ragu menentukan satu ragam tersebut; (2) penutur tidak selalu menyebutkan judul cerita dengan alasan yang penting isi atau nilai cerita;  (3) tokoh-tokoh dalam cerita itu umumnya tidak diberi nama, kecuali jenis kelamin usia, atau status keluarga tokoh, misalnya sebagai bapak, ibu, anak, atau pemuda.