Judul: Ketermanfaatan Pedoman Umum Pembentukan Istilah Bahasa Indonesia

Penulis: Azhari Dasman Darnis

Subjek: Istilah

Jenis: Tesis

Tahun: 2012

Abstrak

Tesis ini membahas hubungan antara ketermanfaatan kaidah pemebentukan istilah, yaitu Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI) dengan keberterimaan istilah. Keberterimaan  sebuah istilah ditentukan oleh pembentuk istilah, pedoman pembentukan, dan pengguna istilah. Pembentuk istilah, pedoman yang berisi tata cara pemebentukan istilah yang baik, dan pengguna yang menjadi target dari pembentukan istilah sangat berperan dalam menentukan  apakah sebuah istilah berterima atau tidak.

     Masalah penelitian adalah sejauh mana pembentuk istilah teknologi informasi menerapkan kaidah PUPI dan keberterimaan istilah tersebut di kalangan pengguna. Kajian ini termasuk ke dalam kajian sosioterminologi. Kajian sosioterminologi yaitu kajian tentang terminologi yang berkaitan dengan alat penggunaannya dalam masyarakat (Tammerman 2000:30). Dalam kajian ini peristilahan dan terminologi digunakan untuk konsep yang sama dan dipakai secara bergantian. Hal tersebut bertujuan untuk memudahkan dan menghindari salah pengertian. Karena secara makna kedua bentuk tersebut mengacu kepada konsep yang sama.

     Penelitian ini memanfaatkan teori perencanaan bahasa yang berkaitan dengan perencanaan korpus, yakni tentang teori peristilahan yang meliputi pengembangan istilah, pembentukan istilah, dan standardisasi istilah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode campuran antara metode kuantitatif dan metode kualitatif. Metode ini dipilih karena metode ini memungkinkan pemahaman yang menyeluruh tentang masalah yang diteliti. Metode kuatitatif digunakan untuk menemukan tingkat keberterimaan istilah teknologi informasi di kalangan pengguna. Sementara itu, metode kualitatif digunakan   untuk menganalisis hasil wawancara dengan pembuat istilah.

     Objek penelitian ada dua kategori, yaitu pembentuk istilah (terminologist) dan pengguna istilah (user of terminology). Pembentuk istilah terdiri atas pakar teknologi isformasi (specialist in an appropriate subject field) yang terlibat dalam pembentukan istilah teknologi informasi yang dikeluarkan Mabbim. Pakar tersebut berjumlah empat orang. Objek penelitian lainnya, yakni penguna istilah adalah mereka yang mengenal dan sering menggunakan istilah teknologi informasi (TI). Mereka adalah mahasiswa TI, praktisi TI, dan profesional. Jumlah responden pengguna istilah TI adalah 446 orang. Jumlah tersebut merupakan jumlah kuesioner yang layak untuk diolah dari 505 kuesioner yang disebar.

     Pembentuk istilah secara umum sudah bekerja sesuai dengan pedoman (PUPI). Namun demikian, beberapa istilah yang dihasilkan tidak sejalan dengan kaidah PUPI. Hal tersebut disebabkan oleh kekurangcermatan atau kekurangan dalam penggunaan kaidah PUPI. Kriteria yang baik dan paling banyak diabaikan pembentuk istilah mulai dari yang paling banyak adalah (1) kekeliruan pemahaman konsep suatu istilah yang berakibat pada  kekurangtepatan makna istilah bentukan dalam bahasa Indonesia, (2) ketidaksesuaian kelas kata, (3) penggunaan ragam non-baku, (4) penggunaan struktur asing pada bahasa Indonesia, dan (5) pembentukan istilah yang tidak ringkas.

     Istilah yang dibentuk dengan berpedoman pada PUPI memiliki tingkat keberterimaan lebih tinggi dari istilah yang dibentuk tanpa berpedoman pada PUPI. Perbedaan antara keduanya sangat signifikan dari segi statistik. Sebaliknya, istilah yang dibentuk tanpa berpedoman pada PUPI memiliki keberterimaan lebih rendah.

     Ketidakberterimaan istilah juga dapat disebabkan kesenjangan antara proses pembentukan yang kerap digunakan pembentuk istilah dengan proses pembentukan yang disukai pengguna. Kesenjangan tersebut menyebabkan kebiasaan pengguna dan keinginan pembentuk istilah tidak pernah bertemu. Contohnya, proses pembentukan yang banyak dipilih oleh pengguna istilah adalah penyerapan, sedangkan pembentuk istilah banyak menggunakan proses penerjemahan. Ketidakberterimaan sebuah istilah bentukan terutama adalah karena makna tidak tepat, bentuk terlalu panjang, bunyi tidak sedap didengar, bentuk asing lebih populer, dan pengguna merasa bentuk tersebut tidak berterima. Pemilihan bentuk asli istilah yang masih asing disebabkan oleh bentuk tersebut yang sangat teknis dan lebih akrab di telinga pengguna, sedangkan ketidakterpilihan bentuk padanannya adalah karena bentuknya yang arkais. Pengguna bentuk lama yang arkais harus disertai dengan sosialisasi. Kurangnya sosialisasi menjadikan usaha tersebut akan sia-sia.

     Terdapat proses yang belum diadopsi dalam PUPI, yaitu proses penyerapan dengan pembandingan. Secara garis besar, terdapat dua kecenderungan dalam pembentukan  istilah asing, yakni kecenderungan untuk menyerang istilah asing yang lebih bersifat internasional di satu sisi dan kecenderungan untuk mengusulkan sumber lokal dari bahasa sendiri dalam rangka pemuliaan bahasa Indonesia di sisi lain. [ALOY]