Clara Ng



Clara Ng

Clara Regina Juana atau yang dikenal dengan nama popularnya, Clara Ng, adalah penulis muda yang potensial. Tulisan yang dihasilkannya kebanyakan berupa novel dan cerita anak. Ia juga dikenal sebagai penulis beragam genre. Sejak kecil Clara mengaku sudah gemar membaca, bahkan bacaannya biasanya lebih berat daripada anak seusianya.

 

Clara lahir di Jakarta, pada tanggal 28 Juli 1973 dan melewati masa kecil dan remajanya di Jakarta. Saat itu, ia tinggal di daerah Kemayoran bersama orang tuanya. Setelah lulus dari sekolah lanjutan tingkat atas, ia berangkat ke Amerika Serikat untuk meneruskan sekolahnya di Universitas Negeri Ohio (Ohio State University). Ia mengambil jurusan Interpersonal Communication dan lulus pada tahun 1997. Setelah lulus, ia masih sempat kerja di Amerika setahun, baru pulang ke Indonesia dengan maksud bekerja di suatu perusahaan pelayaran.

 

Ia menikah pada tahun 2000 dengan Nicholas Ng, lelaki berkewarganegaraan Malaysia, yang ditemuinya pada saat ia bekerja di perusahaan pelayaran itu. Kariernya di perusahaan itu tidak lama karena ia mengalami dua kali keguguran saat bekerja. Lalu, ia mengambil keputusan untuk berhenti bekerja dan memilih karier sebagai penulis professional. Saat ini Clara dan Nicholas sudah dikaruniai dua anak dan mereka tinggal di Tanjung Duren, Jakarta Barat.

 

Cerita anak yang dihasilkan oleh Clara cukup banyak. Cerita anak tersebut biasanya disajikan dengan sederhana, berkaitan dengan perasaan anak-anak, dan bergambar. Tujuan Clara menulis cerita anak-anak adalah untuk membangkitkan rasa empati kepada anak. Clara juga dengan sengaja menciptakan nama-nama karakternya yang mudah diingat anak agar penyampaian pesannya lebih cepat diterima oleh anak.

 

Tiga buah cerita anak yang diciptakannya berhasil mendapat penghargaan Adhikarya dari Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) sebagai Buku Anak Terbaik, selama tiga tahun berturut-turut. Ketiga cerita anak tersebut adalah Rambut Pascal (2006), Warna Pelangi (2007), dan Jangan Bilang Siapa-Siapa (2008).

 

Kalau dalam cerita anaknya Clara menampilkan cerita yang sederhana dan gampang diingat oleh pembaca kecilnya, novelnya yang ditulis untuk orang dewasa justru kadang tampil dengan cerita yang agak rumit dan berat. Karakter utama yang diangkat Clara pada umumnya adalah karakter perempuan. Karakter ini kebanyakan tidak memiliki pekerjaan. Clara juga sering mengangkat masalah yang berhubungan dengan kelompok minoritas.

 

Novelnya yang berjudul Gerhana Kembar (Gramedia, 2007) bercerita tentang cinta sesama jenis. Novelnya ini mendapat sambutan baik dari kaum LGBT Indonesia karena ceritanya tidak mengaitkan homoseksualitas dengan isu negatif, seperti penggunaan obat-obatan. Cerita ini tampil dengan gayanya sendiri, terhindar dari cerita stereotip.  Percintaan antara Fola dan Henrietta (sesame jenis) yang tertulis dalam naskah cerita yang tersimpan rapi di dalam lemari Fola. Naskah cerita itu kelak ditemukan oleh Landy (cucu Fola) pada saat Fola sudah sekarat di rumah sakit.

 

Dalam perjalanan kariernya sebagai penulis, Clara juga suka berbagi ilmu dengan penulis muda. Ia membuka kesempatan bagi penulis muda berkolaborasi dengannya untuk menulis novel bersama.  Terciptalah  sebuah novel yang berjudul Black Jack (terbit tahun ) yang ditulis bersama Felice Cahyadi, seorang penulis pemula.

 

Novel Black Jack ditulis dari kisah nyata. Clara mengatakan tidak semua kisah nyata dapat dengan baik dituangkan ke dalam novel. Namun, kisah nyata yang melatarbelakangi Black Jack disebutnya memenuhi banyak unsur untuk dapat diangkat menjadi cerita dalam novel. Semua intrik drama untuk fiksi ada, dari segi karakter juga, begitupun dengan latar luar negeri, dan plot yang menarik.

Black Jack mengisahkan Ashlyn, mahasiswa Indonesia di Inggris, yang terjerumus ke dalam dunia perjudian karena ingin menolong kekasihnya, Jaeed, yang juga mahasiswa dari Indonesia. Dibutakan oleh cinta, Ashlyn rela mati-matian terlibat dalam perjudian demi membayar hutang judi Jaeed hingga hidupnya terlunta-lunta. Ashleylah yang kemudian menghubungi Clara supaya Clara menuliskan kisahnya agar menjadi pelajaran bagi orang lain.

 

Pengalaman lain Clara dalam menulis adalah membuat novel yang berdasarkan cerita dari film.  Padahal, biasanya hal sebaliknyalah yang berlaku, film yang dibuat berdasarkan novel.  Akan tetpi, Clara sanggup membuatnya. Ia ternyata menyukai berbagai tantangan dalam menulis. Film yang diubahnya menjadi novel itu adalah film yang berjudul “Pintu Harmonika.” Film itu dirilis tahun 2013, disutradarai oelh Ilya Sigma, dan dibintangi oleh Donni Damara, Barry Prima, Karina Salim, serta Nasya Abigail.

 

Penggemar novel Clara juga sangat menyukai kata-kata yang menginspirasi atau yang menimbulkan kesan yang dalam yang terdapat di dalam novelnya itu. Kata-kata dalam novel Clara yang dijadikan kutipan, antara lain, adalah “Terkadang aku ingin mengintip takdirku agar hidupku lebih berencana. Tapi aku baru sadar, Tuhan menyimpan takdir untuk kejutan”; “Semua orang ingin hidup bahagia. Kadang-kadang kita sendiri yang mempersulit keadaan untuk menjadi bahagia”; dan “Dengan melunak, kita bisa lebih menyerap. Dengan melembut, kita bisa lebih mendapat. Ibarat spons, dengan kekosongan dapat mengisap air sebnyak-banyaknya.”

 

Meskipun Clara sekarang sudah menjadi penulis yang sukses, bukan berarti jalannya sudah sukses sejak semula. Saat peluncuran novelnya yang pertama, Tujuh Musim Setahun (2002), novel itu gagal di pasaran. Pembelinya menunjukkan angka yang rendah dan itu tentu saja tidak sesuai dengan yang diharapkan.

 

Akan tetapi, kegagalan itu tidak terlalu lama dirasakan Clara karena pada peluncuran novelnya yang kedua, ia sudah bisa meraih kesuksesan. Novelnya yang terbit kemudian itu adalah Indiana Chrinicle, yang merupakan novel trilogi,  Indiana Chronicle: Blues,  Indiana Chronicle: lipstick,  dan  Indiana Chronicle: Bridesmaid.  Setelah terbitnya novel  Indiana Chrinicle itu jalan Clara sebagai penulis pun semakin mulus. Pasar novel Indonesia pun kemudian dibanjiri oleh tulisan-tulisan Clara Ng. 

 

Karya-karya Clara Ng

 

  1. Novel
  1. Tujuh Musim Setahun
  2. Indiana Chronicle : Blues
  3. Indiana Chronicle : Lipstick
  4. Indiana Chronicle  : Bridesmaid  
  5. Dimsum Terakhir
  6. Gerhana Kembar
  7. Pintu Harmonika
  8. Tea for Two
  9. Tiga Venus
  10. Utukki: Sayap Para Dewa
  11. The (Un)reality Show
  12. Mantra Dies Irae
  13. Ramuan Drama Cinta
  14. Blackjack
  15. Hujan, Hujan, Hujan

 

  1. Cerita Anak
  1. Dongeng Sekolah Tebing
  2. Dru dan Kisah Lima Kerajaan
  3. Princess, Bajak Laut, dan Alien
  4. Bundel Berbagi Cerita, Berbagi Cinta
  5. Bundel Bagai Bumi Berhenti Berputar
  6. Kumpulan Dongeng: Bagai Bumi Berhenti Berputar
  7. Bundel Stories From the Heart
  8. Bundel Sejuta Warna Pelangi
  9. Bundel Dongeng Tujuh Menit
  10. Dongeng Tujuh Menit: Upik Bermain Bola
  11. Dongeng Tujuh Menit: Ketahuan
  12. Dongeng Tujuh Menit: Air Mata Buaya
  13. Dongeng Tujuh Menit:  Wayang Sebelum Tidur
  14. Jampi-Jampi Varaiya
  15. Bagai Bumi Berhenti Berputar:  Seribu Sahabat Selamanya
  16. Bagai Bumi Berhenti Berputar: Pohon Harapan
  17. Sejuta  Warna Pelang: Kapan Hujan Berhenti
  18. Stories from The Heart: Rai, Rain, Rain
  19. Sejuta Warna Pelangi: Ambilkan Bulan, Yah!
  20. Sejuta Warna Pelangi: Jangan Bilang Siapa-Siapa
  21. Stories From The Heart: What’s That Noise?
  22. Story From The Heart:  From Faraway Land
  23. Story From The Heart: Forgetful Lupi

sumber foto: http://idwriters.com, http://www.sukamakancokelat.com