Langkah Pemetaan Bahasa di Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah

Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan (BPBP), bersama Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah melakukan pendampingan pencarian data lapangan pemetaan bahasa di Kabupaten Morowali pada tanggal 25 Juni—2 Juli 2019. Kegiatan ini sebagai bentuk kolaborasi antara Pusat dan daerah supaya mempunyai kesamaan dalam melakukan pencarian data lapangan pemetaan bahasa. Dalam hal ini, pencarian data lapangan dilakukan di Desa Usongi, Kecamatan Buku Timur, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

“Masyarakat Desa Usongi menggunakan bahasa Koroni dalam berkomunikasi sehari-hari yang berbeda dengan bahasa Bungku,” kata Arisman,  Kepala Desa Usongi. Pengakuan keberadaan  bahasa Koroni tersebut menjadi temuan menarik dalam pencarian data lapangan pemetaan bahasa. Perlu diketahui bahwa bahasa Koroni belum teridentifikasi dalam Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia.

Berdasarkan temuan di lapangan, BPBP masih perlu meneliti apakah bahasa yang digunakan penduduk Desa Usongi dapat dikategorikan sebagai bahasa Koroni atau hanya dialek dari bahasa Bungku. Setelah dilakukan penelitian, barulah bahasa Koroni dimasukan ke dalam Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia.

Dalam melakukan penelitian pemetaan bahasa, peneliti dari BPPB menjaring kurang lebih seribu kata di Desa Usongi mulai dari kosakata dasar hingga kosakata budaya. Selanjutnya, kosakata tersebut dibandingkan dengan kosakata dari bahasa yang dipakai di desa lainnya. Hasil perbandingan itu akan diperlakukan  menjadi dasar klasifikasi bahasa yang dipakai di Desa Usongi.

Pencarian data lapangan pemetaan bahasa ini pada dasarnya bertujuan untuk mendokumentasikan bahasa-bahasa di Indonesia. Terlebih lagi, Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki kekayaan bahasa daerah yang tersebar di berbagai wilayah. Belum semua bahasa daerah yang ada di Indonesia teridentifikasi. Oleh karena itu, BPPB terus berupaya mencari dan mencatat bahasa-bahasa daerah yang belum teridentifikasi. Semakin banyak bahasa daerah yang teridentifikasi,  kita akan mengetahui seberapa banyak kekayaan kita di bidang bahasa sebagai aset bangsa. (satwiko)

Artikel Terpopuler