Judul: Kesantunan Bentuk Tuturan Direktif di Lingkungan SMA Negeri I di Surakarta (Sebuah Kajian Sosiopragmatik)

Penulis: Nurul Masfufah

Subjek: Bahasa Indonesia-Kesantunan Berbahasa

Jenis: Tesis

Penerbit: Surakarta: Program Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret

Tahun: 2010

Abstrak

Pemakaian kesantunan berbahasa, khususnya bentuk tuturan direktif di lingkungan sekolah merupakan fenomena yang menarik untuk diteliti. Tesis ini merupakan penelitian naturalistik dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan berupa sumber lisan, yaitu berupa tuturan-tuturan pada peristiwa tutur di lingkungan SMA Negeri I Surakarta. Teknik penentuan subjek dalam penelitian ini adalah teknik selektif dengan purposive sampling yang mempertimbangkan konsep teoretik yang digunakan, keinginan pribadi, dan karakteristik empiris. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan angket. Validitas data dilakukan dengan cara trianggulasi sumber, yaitu menganalisis tuturan bentuk direktif sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan berdasarkan teori yang digunakan.

Penelitian ini menghasilkan: Pertama, bentuk kesantunan tuturan direktif dalam peristiwa tutur di lingkungan SMA Negeri I Surakarta dapat dilihat berdasarkan penanda dan kaidah bahasa yang santun, yaitu, antara lain,  (a) penutur berbicara wajar dengan akal sehat, (b) penutur mengedepankan pokok masalah yang diungkapkan, (c) penutur selalu berprasangka baik kepada mitra tutur, (d) penutur terbuka dan menyampaikan kritik secara umum. Kedua, prinsip kesantuan bentuk tuturan derektif yang diterapkan oleh siswa dan guru dalam peristiwa tutur di lingkungan SMA Negeri I Surakarta, antara lain, (a) maksim kearifan, (b) maksim kemurahan hati, (c) maksin pujian, (d) maksim kerendahan hati, (e) maksim kesepakatan, dan (f) maksim simpati.  Selain itu juga menerapkan prinsip penghindaran pemakain kata tabu dengan  penggunaan eufemisme dan penggunaan pilihan kata honorifik. Ketiga, urutan kesantunan bentuktuturan direktif berdasarkan persepsi siswa SMA Negeri I Surakarta dari bentuk yang paling santun sampai yang paling tidak santun, yaitu bentuk tuturan direktif: (1) rumusan saran, (2) rumusan pertanyaan, (3) isyarat kuat, (4) isyarat halus, (5) pernyataan berpagar, (6) bentuk tuturan dengan pernyataan keharusan, (7) bentuk tututan direktif dengan pernyataan keinginan, (8) bentuk tututan direktif dengan pernyataan eksplisit, dan (9) bentuk tututan direktif dengan modus imperatif. Keempat, faktor-faktor yang menentukan kesantunan dan ketaksantunan bentuk tuturan direktif pada peristiwa tutur di SMA Negeri I Surakarta, antara lain, factor kebahasaan dan nonkebahasaan. Faktor kebahasaan meliputi (a)  pemakaian diksi yang tepat, (b) pemakaian gaya bahasa yang santun, (c) pemakaian struktur kalimat yang baik dan benar. Selain ketiga aspek di atas, ada beberapa aspek penentu kesantunan dalam bahasa verbal lisan, antara lain aspek intonasi dan aspek nada bicara. Adapun faktor nonkebahasaan, meliputi: (a) topik pembicaraan, (b) konteks situasi komunikasi, dan (3) pranata sosial budaya masyarakat. [AL/a]