Membentuk Masyarakat Berperilaku Budaya Literasi


12/19/2016 | Kegiatan

Membentuk Masyarakat Berperilaku Budaya Literasi

Badan Bahasa, Bengkulu—Persoalan yang berhubungan dengan pola pikir dan perilaku berbahasa dan bersastra masyarakat Indonesia yang majemuk menjadi isu utama yang dibicarakan dalam Seminar Bahasa dan Sastra dalam Perspektif Kebinekaan. Isu tersebut dipilih dalam seminar untuk dicarikan jawabnya terhadap anggapan bahwa sistem pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dan daerah selama ini belum sepenuhnya berhasil membentuk peserta didik ke arah perilaku budaya literasi.

Perkembangan bahasa Indonesia bersifat dinamis karena dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi dan perubahan sosial-politik. Kedinamisan itulah yang membuat bahasa Indonesia bergerak secara horisontal dan vertikal dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Hal itu dinyatakan oleh Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Provinsi Bengkulu, Adi Erlangga Masdiana, saat memberikan pandangannya di awal seminar. Ia menyatakan bahwa bahasa Indonesia yang kini masuk menjadi bahasa lima besar terbanyak penuturnya di dunia menjadi model bahasa pemersatu. Indonesia menjadi acuan bagi bangsa lain dalam hal pengelolaan bahasa yang baik.

Dengan jumlah penutur yang banyak ditambah dengan kemantapan sistemnya, bahasa Indonesia berpotensi menjadi bahasa besar di dunia. Untuk menuju cita-cita itu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dengan berlandaskan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 memvisikan bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional. Hurip Danu Ismadi, Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, menegaskannya ketika membuka seminar yang diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Provinsi Bengkulu pada 19 Desember 2016 di Bengkulu itu.

Hurip mengatakan bahwa melalui sembilan program prioritas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa tujuan penginternasionalan bahasa Indonesia diharapkan dapat dicapai. Pengiriman guru BIPA ke luar negeri adalah salah satu upaya yang dijalankan selama ini. Selain itu, daya dukung yang lain adalah pengayaan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Pada tahun 2019, KBBI ditargetkan memuat 200.000 lema. Kesempatan masyarakat untuk mengakses KBBI Edisi V, kata Hurip, saat ini dimudahkan dengan adanya KBBI dalam jaringan (daring) dan KBBI luar jaringan (luring). Dengan adanya kemudahan itu diharapkan masyarakat akan semakin dekat dengan KBBI.

Untuk meningkatkan budaya baca masyarakat, Badan  Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menyikapinya dengan menyediakan bahan bacaan sastra untuk anak dan remaja. Hurip menjelaskan bahwa pada tahun 2016 sebanyak 263 judul buku cerita anak sudah ditulis dan sebagian sudah lolos penilaian Pusat Kurikulum dan Perbukuan. Pada tahun 2017, Badan  Pengembangan dan Pembinaan Bahasa merencanakan membuat 300 judul buku bacaan.

Hurip menyinggung pula pentingnya peran perpustakaan. Perpustakaan adalah rumah pengetahuan. “Perpustakaan mendatang menuju ke perpustakaan digital, (e-library). Badan  Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sedang menyiapkannya agar masyarakat kelak dapat dengan mudah mengakses buku-buku yang sudah didigitalkan,” katanya pada akhir sambutannya.

Seminar sehari ini diikuti oleh 200 orang peserta yang terdiri atas guru, dosen, dan pemerhati bahasa dan sastra di Bengkulu. Pembicara seminar adalah Prof. Dr. Suwardi Endraswara dari Universitas Negeri Yogyakarta yang menyampaikan “Sastra Multikultural Membangun Peradaban Baru” dan dua orang dari Universitas Bengkulu, yaitu Prof. Dr. Sudarwan Danim, M.Pd. yang menyajikan “Pemartabatan Bahasa Indonesia dan Tantangannya” dan Prof. Dr. Endang Widiwinarni, M.Pd. yang membicarakan “Pembangunan Generasi Emas sebagai Pelestari Bahasa Indonesia”. (td)