Bertutur di Hitulama, Revitalisasi di Jazirah


04/01/2017 | Kegiatan

Bertutur di Hitulama, Revitalisasi di Jazirah

Hitu, Badan Bahasa Waktu menunjukan pukul 06.00 di Hitulama, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah. Masih terlalu pagi untuk melihat keramaian. Pasar baru dibuka dan ikan tangkapan yang merupakan produk utama baru tiba dari laut. Pedagang dari Pulau Seram yang datang dengan perahu mesin mulai bersandar di jibu-jibu, istilah orang Hitu yang merujuk pada tempat transaksi jual beli ikan sebelum dibawa ke pasar. Negeri adat di bagian barat Pulau Ambon itu baru mulai bergeliat.

Akan tetapi, ada yang berbeda. Hari itu anak-anak sekolah bangun dengan hati berdebar-debar. Tepat pukul 10.00 nanti mereka akan tampil di panggung yang didirikan di depan rumah Upu Latu Sitania (Gelar untuk Raja Hitulama), Salhana Pelu. Kostum disiapkan dan tuturan dilatih ulang. Hari itu, Sabtu, 1 April 2017 memang ada hajatan dari Kantor Bahasa Maluku (KBM). Bekerja sama dengan Pemerintah Negeri Hitulama dan Hitumesing, KBM mengadakan Lomba Bertutur Bahasa Hitu yang bertema “Bahasa Daerah Lestari, Adat Budaya Terjaga”. Lomba diperkirakan akan berlangsung dengan meriah karena untuk negeri adat seperti Hitu, anak mengikuti kegiatan berarti orang tua terlibat juga. Peserta dan pengisi acara yang mencapai hampir seratus orang menandakan mayoritas warga Hitu akan hadir di tempat acara.

Benar saja, pukul sembilan lebih halaman rumah raja yang luas sudah penuh oleh peserta dan penonton yang mewakili delapan sekolah di Hitu. Ada lima SD dengan peserta 25 orang, 2 SMP dengan 18 peserta, dan 1 SMA yang mengikutsertakan 10 peserta. Lomba berlangsung hampir delapan jam karena banyaknya peserta. Penonton pun tidak surut walaupun sempat turun hujan beberapa kali. Hari itu Hitulama meriah oleh tawa penonton yang tergelitik dengan polah lucu peserta atau sorak sorai gembira dari peserta yang menyelesaikan tuturannya.

Salhana Pelu, dalam sambutannya, mengapresiasi inisiatif KBM sambil mengingatkan warganya akan pentingnya kesadaran berbahasa daerah. “Hilang bahasa daerah, hilang juga adat kita,” katanya. Hal senada disampaikan Kepala Kantor Bahasa Maluku, Dr. Asrif. “Kegiatan ini bertujuan menguatkan kembali posisi bahasa daerah Hitu agar tetap menjadi bahasa ibu masyarakat di kawasan ini. Bahasa daerah bukan semata alat komunikasi melainkan lebih dari itu, bahasa daerah adalah sarana perekat atau penyatu sesama penuturnya,” paparnya.

Asrif juga menekankan pentingnya keterlibatan warga dalam pelestarian bahasa daerah. “Apa yang dilakukan KBM hanya bagian kecil dari upaya revitalisasi bahasa daerah. Upaya besar itu berada di tangan Ibu dan Bapak. Bahasa daerah Hitu akan tetap lestari jika masyarakat Jazirah Leihitu terus-menerus menggunakan bahasa Hitu,” terangnya.

Antusiasme warga yang rela menunggu hingga akhir acara memberikan  secercah harapan Jazirah Leihitu untuk siap menjadi bagian revitalisasi bahasa daerahnya. Langkah awal proses ini dimulai dengan komitmen masyarakat Hitulama untuk menggunakan Bahasa Hitu setiap hari Minggu. (Arie)