Judul: Sistem Sapaan Bahasa Madura Dialek Sumenep: Kajian Sosiolinguistik

Penulis: Foriyani Subiyatningsih

Subjek: Bahasa Madura-Dialek; Bahasa Madura-Sosiolinguistik

Jenis: Tesis

Penerbit: Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada

Tahun: 2005

Abstrak

Tesis ini difokuskan pada dialek Sumenep. Alasan pemilihan dialek Sumenep ialah karena dialek Sumenep telah diangkat sebagai bahasa standar, dipakai sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah mulai dari kelas I sampai dengan kelas III sekolah dasar, dan dipakai sebagai sarana penulisan buku berbahasa Madura. Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Mengklasifikasikan sapaan BMDS berdasarkan bentuk dan maknanya, (2) Mendeskripsikan pola pemakaian sapaan BMDS, dan (3) mendeskripsikan satuan lingual yang merupakan bentuk sapaan BMDS.

            Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Pada tahap penyediaan data, digunakan metode cakap, yaitu berupa percakapan antara peneliti dengan penutur yang menjadi narasumbernya. Metode cakap dilakukan dengan bantuan teknik dasar, yaitu teknik pancing dan teknik lanjutan, yang tediri atas tiga teknik yaitu teknik cakap semuka, teknik rekam, dan teknik catat. Dalam menganalisis data,  penulis menggunakan metode padan, yaitu metode yang dipakai untuk mengkaji atau menentukan identitas satuan lingual tertentu dengan memakai alat penentu yang berada di luar bahasa, terlepas dari bahasa, dan tidak menjadi bagian bahasa yang bersangkutan. Metode padan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode padan referensial, translasional, dan pragmatis. Hasil analisis disajikan dengan menggunakan metode formal dan informal.

            Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data verbal tentang bentuk-bentuk sapaan kekerabatan dan nonkekerabatan BMDS. Pemerolehan data berasal dari sumber data lisan, sebanyak 5 orang.

            Dalam interaksi sosial sapaan merupakan satuan lingual berupa kata atau kelompok kata yang digunakan untuk menyapa mitra tutur yang terlibat dalam suatu pembicaraan. Dalam penelitian ini, sapaan BMDS diklasifikasikan berdasarkan bentuk dan makna.  Berdasarkan bentuknya, sapaan BMDS diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu berdasarkan ciri fonologis,  ciri morfologis, dan ciri sintaktis. Ciri fonologis ditandai dengan adanya pelesapan bunyi pada suku awal. Sapaan berdasarkan ciri morfologis berupa bentuk dasar, bentuk kata ulang, dan kata majemuk. Berdasarkan ciri sintaktik sapaan dibedakan berdasarkan satuan gramatik dan distribusinya. Berdasarkan satuan gramatik bentuk sapaan dalam BMDS dapat berupa frasa atau kelompok kata, sedangkan berdasarkan distribusi dalam konstruksi sintaktik sapaan dapat menduduki posisi di depan, di tengah,  atau di belakang klausa.  Berdasarkan makna, sapaan dapat diklasifikasikan menjadi Sembilan macam, yaitu berupa nama diri, pronominal persona, nama kekerabatan, jabatan dan profesi, gelar, kata religious, kata persahabatan, metaforik, dan jhajhuluk.

            Bentuk sapaan BMDS terdiri atas bentuk sapaan kekerabatan dan nonkekerabatan. Sapaan kekerabatan meliputi sapaan yang digunakan dalam keluarga inti dan keluarga luas, baik dalam hubungan kekerabatan vertical maupun horizontal. Sapaan nonkekerabatan dikaitkan dengan teori ranah, meliputi sapaan yang digunakan di lingkungan tetangga, pondok pesantren, pamong desa, guru, dan bangsawan. Pemakaian bentuk sapaan dipengaruhi oleh aspek-aspek di luar kebahasaan yang berupa faktor sosial, yaitu situasi, etnik, kekerabatan, keakraban, status, umur, jenis kelamin, status perkawinan, dan asal tempat. Pemakaian sapaan sebagian besar menggunakan bentuk singkat. Bentuk sapaan lengkap hanya digunakan dalam situasi formal, pada sapaan yang disertai jenis kelamin bine ‘perempuan’. Selain  kaidah itu, terdapat kaidah alternasi, kookurensi, dan sekuensi. Kaidah alternasi berkaitan dengan pilihan-pilihan sapaan. Kaidah kookurensi melihat faktor-faktor di luar sapaan yang menyertai sapaan. Kaidah sekuensi menandai gabungan  unsure-unsur pembentuk sapaan dan urutan unsure-unsur tersebut. [AL/a]