Judul: Kebertahanan Bahasa Bali Komunitas Remaja Kuta, Badung

Penulis: Sang Ayu Putu Eny Parwati

Subjek: Bahasa Bali-Bilingualisme

Jenis: Tesis

Penerbit: Denpasar: Program Pascasarjana, Universitas Udayana

Tahun: 2011

Abstrak

Tesis ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara rinci (1) pilihan BI (bahasa Indonesia dan BB (bahasa Bali), (2) pilihan ragam BB alus dan lumrah (BBA (bahasa Bali Lumrah) dan BBL (bahasa Bali Alus), dan (3) menguraikan bentuk-bentuk lingual dalam peristiwa alih kode dan campur kode yang muncul dalam tuturan komunitas remaja di wilayah Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung.

Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang bersifat deskriptif etnografis karena penelitian ini memandang bahasa sebagai tindakan, bahasa sebagai pilihan atau sumber daya, dan pemakaian sebagai tujuan idealisasi atas kriteria keberterimaan yang terjadi, sehingga ditentukan kriteria responden yang dibedakan oleh jenis kelamin dan golongan, kemudian diperoleh data tulis dan lisan, dan selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik kuantitatif dan kualitatif. Subjek penelitian difokuskan pada remaja usia 15 hingga 18 tahun dan bersekolah di  tiga SMA dan satu SMK yang berlokasi di wilayah Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, yaitu SMA Negeri I Kuta, SMA Kuta Pura, SMK Prshanti Nilayam, dan SMA Negeri 2 sebagai responden yang diminta untuk mengisi kuesioner yang berjumlah 40 orang sampel.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pilihan bahasa komunitas remaja di Kecamatan Kuta dalam berinteraksi adalah BB dan BI. Umumnya BB berada pada tingkat yang lebih tinggi, terutama BBL dan dinyatakan tetap bertahan. Namun, dalam setiap peristiwa yang dilakukan tetap diwarnai dengan perembesan penggunaan BI dan ragam BBL pada peristiwa bahasa yang sangat sensitif terrhadap penggunaan ragam BBA yaitu pada ranah kegiatan agama (berdoa) dan saat berkomunikasi kepada mitrawicara yang lebih tua usianya dan apa pun golongannya. Hal ini menggambarkan bahwa penggunaan dan penggunaan bahasa tersebut sudah tertanam dalam serangkaian proses mental dan psikologis komunitas remaja di wilayah Kecamatan Kuta, Badung. Dengan demikian, fenomena kebocoran diglosia yang mengarah pada situasi yang mengancam keberadaan ragam BBA menjadi fenomena yang mengkhawatirkan. Peristiwa campur kode dan alih kode antara BB dengan kedua ragamnya dan BI juga selalu mewarnai setiap tuturan. Fenomena-fenomena kebahasaan tersebut memerlukan peran serta berbagai pihak untuk meningkatkan pengatahuan dan pemahaman generasi penerus BB terhadap penggunaan sor-singgih basa guna mengantisipasi kepunahan salah satu warisan budaya Bali.

Simpulan penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) pada umumnya bahasa Bali cenderung dipilih untuk berkomunikasi dengan mitra wicara yang seetnis dari berbagai usia dan golongan sehingga dapat dikatakan bahwa bahasa Bali masih bertahan dan digunakan oleh komunitas remaja di wilayah Kuta yang dwibahawan. Kedwibahasaan remaja ini dikatakan sebagai kedwibahasaan yang aditif; (2) Kecenderungan terhadap pilihan ragam BBL oleh komunitas remaja Kuta sangat tinggi dibandingkan dengan pilihan terhadap ragam BBA. Perbedaan kecenderungan ini dipengaruhi oleh variable jenis kelamin dan golongan secara signifikan sehingga komunitas remaja ini dikategorikan sebagai kedwibahasaan yang subtraktif, yaitu komunitas remaja yang lambat laun menyebabkan lenyapkan salah satu ragam BB; (3) Fenomena alih kode dan campur kode antara ragam BBA, ragam BBL, dan BI cukup tinggi. Alih kode intern dan ekstern terjadi berupa alih kode antarkalimat dan alih kode intrakalimat, sedangkan peristiwa campur kode terjadi pada tataran kata, berupa kata dasar dan kata turunan, dan pada tataran frasa pada ketiga bahasa tersebut.[AL/a]