Judul: Simbol dan Nilai Budaya Upacara Adat Kutai dalam Babad Salisah Kutai: Kajian Antropologi Sastra

Penulis: Halimi Hadibrata

Subjek: Sosiologi Sastra

Jenis: Tesis

Tahun: 2007

Abstrak

Tesis ini bertujuan memahami pandangan dunia masyarakat Kutai pada abad XIV-XVI yang bercermin dari cerita-cerita dalam Salasilah Kutai. Memahami struktur cerita menurut skema naratif aktansial dan fungsional tentang cerita tokoh-tokoh cerita anak dewa yang berperan sebagai tokoh upacara adat Kutai; Mengklasifikasi jenis ritual upacara adat Kutai secara antropologis sesuai dengan tujuan hidup manusia secara individual dan kolektif. Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah aspek intrinsic (atruktur bentuk dan isi) dan aspek ekstrinsik pada fungsi pragmatiknya dalam kebudayaan seperti di bawah ini. (l) bagaimana skema struktur aktansial penceritaan bahad Salasila Kutai secara genetis-historis memiliki unsure yang mirip dengan cerita babad daerah lain yang terikat secara geografis dalam wilayah kultur masyarakat Kutai Kartanegara; (2) Bagaimana struktur cerita babad Salasilab Kutai secara genetis memiliki kemiripan dengan struktur cerita babad laian yang terkait secara historis yang sezaman dalam konteks budaya nusantara; (3) Bagaimana menafsirkan symbol-simbol budaya dalam struktur penceritaan dan ritual upacara adat masyarakat Kutai dalam cerita Salasilah Kutai tersebut.

Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan teknis analisis isi. Simbol-simbol budaya dalam upacara adat dianalisis dengan dua tahap, yaitu pertama, analisis untuk menetukan proses produksi pembentukan simbol dan penafsirannya pada system sekunder bahasa konotasi dan metabahasa. Kedua, dilakukan analisis dan tinjauan antropologi untuk menghubungkan hasil interpretasi teks dengan nilai budaya yang dikandungnya sebagai bagian dari system pranata sosial-budaya masyarakat pendukungnya.

Simpulan dari penelitian ini adalah struktur formal cerita babad Salasilah Kutai dibentuk oleh tiga motif yaitu (1) legitimasi asal-usul keturunan raja-raja Kutai yang dianggap berasl dari keturunan dewa, (2) legitimasi daerah kekuasaan kerajaan Kutai, dan (3) legitimasi upacara adat Kutai. Ketiga. .motif.ini.dibentuk dengan cara- (a) menggunakan skema naratif aktansial yang terdiri atas lima kategori, yaitu objek yang dikirim adalah anak dewa laki-Iaki dan perempuan dengan ajaran upacara adat untuk diri dan keturunannya yaitu Aji Batara Agung Dewa Sakti, Putri Karang Melenu, Aji Tulur Dijangkat, dan Muk Bandar Bulan; subjek yang mengemban tugas untuk memelihara anak dan menyusun aksi subjek secara simbolis dilanjutkan dengan membentuk situasi akhir dan pelaksanaan upacara adat; (b) Jenis upacara adat masyarakat Kutai terdiri atas upacara adat sepanjang hayat individu meliputi upacara adat kelahiran, upacara adat turun ke tanah dan mandi di sungai, upacara adat pemberian gelar kehormatan, upacara adat perbelian, upacara adat perkawinan, dan upacara adat kematian serta upacara adat kerajaan yang disebut dengan upacara adat kenaikan tahta atau enau Kutai; (c) symbol dan nilai budaya adat Kutai meliputi 1) kesadaran simbolisasi asal-usul dan upacara adat masyarakat Kutai merupakan pandangan dunia mengenai hakikat manusia, alam dan Tuhan dalam pola hubungan symbol yang berpasangan oposisional, paradigmatic dan sintagmatis, 2) symbol dan nilai upacara adat Kutai adalah simbolisasi peralihan dan pengintegrasian hidup individu, masyarakat dan pimpinan kerajaan pada fase perkembangan masa laiu dan masa depan yang berpola dalam upacara adat dalam rubrik majalah Gadis, Hai, dan Kawanku, peneliti menemukan penggunaan jenis kalimat deklaratif, interogatif, dan imperatif. Yang menarik pada ketiga bentuk kalimat ini adalah susunan gramatika (struktur) kalimat yang berbeda dengan pola gramatika bahasa Indonesia. Perbedaan itu berupa pemakaian kata yang lebih banyak menggunakan bahasa slank daripada bahasa baku. Selain itu, penggunaan bentuk kata yang lebih kreatif, bahkan mereka menggunakan kata ciptaannya sendiri. Kalimat deklaratif memiliki dua tipe, yaitu tipe kalimat yang memiliki kelengkapan unsure dan tipe kalimat yang tidak memiliki kelengkapan unsur, yaitu S-P, S-P-K, S-P-Pel., S-P-O, S-P-O-K, dan S-P-O-Pel. Kalimat yang tidak memiliki kelengkapan unsur lebih dominan hanya mengandung satu unsur, yaitu subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan.

Kalimat interogatif bahasa remaja hanya terdapat kalimat yang menggunakan kata Tanya, yaitu apa, apakah, berapa, siapakah, kenapa, kapan, gimana, dan mana. Akan tetapi, kalimat interogatif yang tidak menggunakan kata Tanya hanya terdapat dua jenis, yaitu kalimat pengungkapan dan penggunaan partikel 'ya', 'lah', dan 'kan'. Kalimat imperatif. Dalam bahasa remaja, kalimat imperatif memiliki 6 kelompok, yaitu imperatif suruh biasa, imperatif suruh halus, imperatif permintaan, imperatif ajakanJpengharapan, imperatif larangan, d.a.t1imperatif pembiaran. (ALOY)