PROGRAM PENULISAN MASTERA: CERPEN 2018

Setiap tahun,  sejak tahun 1997, Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) mengadakan Program Pelatihan Penulisan Mastera—dulu disebut Bengkel Sastra Mastera—bagi sastrawan muda dari lima negara anggota, Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Kegiatan ini ditaja oleh Mastera-Indonesia melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Lima genre karya yang dilatihkan adalah puisi, cerpen, novel, drama, dan kritik/esai.  Kelima genre itu dilatihkan secara bergilir setiap tahunnya. Program Penulisan Mastera yang telah dilaksanakan, yaitu genre puisi (1997, 2002, 2007,  2012, dan 2017), genre cerpen (1998, 2003, 2008, dan 2013), genre esai (1999, 2004, 2009, dan 2014), genre drama (2000, 2005, 2010, dan 2015), dan genre novel (2001, 2006, 2011, dan 2016).

Program Penulisan Mastera ini bertujuan memberikan kesempatan kepada satrawan muda dari empat negara anggota Mastera untuk memperluas wawasan dan kemampuan teknis penulisan dan bertukar pengalaman kreatif antara sesama peserta dan sastrawan senior.

Pada tahun 2018 ini, program penulisan yang berlangsung pada tanggal 12—18 Agustus 2018 di Depok, Jawa Barat, melatihkan penulisan cerpen. Peserta yang terlibat aktif sebanyak 18 orang yang berasal dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Program penulisan diisi dengan diskusi, pendampingan, dan pembimbingan yang dipandu para pembimbing. Di tengah program, ada sesi ceramah umum tentang seluk-beluk penulisan cerpen yang disampaikan oleh Prof. Dr. Budi Darma.

Acara Program Penulisan Mastera: Cerpen tahun 2018 dibuka oleh Kepala Badan Bahasa, Prof. Dr. Dadang Sunendar, selaku Ketua Mastera-Indonesia. Dalam sambutan dan pengarahannya, Prof. Dadang mengatakan, “Pertemuan para penulis cerpen ini diharapkan dapat memotivasi para penulis muda  untuk terus aktif berbagi proses kreatif sekaligus mampu mengakomodasi arahan para pembimbing cerpen yang sudah sekian lama berproses di bidangnya. Diharapkan para penulis muda ini mampu bersinergi membangun semangat sekaligus penyegaran ide baru atas instruksi dari para pembimbing.” Pada kesempatan itu, beliau juga mengharapkan melalui kegiatan ini peserta dapat mengambil manfaat dari pandangan dan kritik sesama sastrawan muda. Di samping itu, kegiatan ini juga diarahkan agar dapat menjadi wadah untuk menyerap  pengalaman kreatif, baik dari sastrawan senior maupun dari sesama sastrawan muda.

Dr. Ganjar Harimansyah, selaku Ketua Pelaksana Program ini menambahkan, “Dari Indonesia, pemilihan peserta mempertimbangkan keterwakilan di tiap daerah.  Selain talenta cerpenis, peserta yang terpilih adalah mereka yang turut ambil bagian dan terpanggil membangun jejaring komunitas di Indonesia.”

Para pembimbing dalam program ini adalah Yanusa Nugroho (Indonesia), Triyanto Triwikromo (Indonesia), Gus Tf Sakai (Indonesia), Dr. Pudarno bin Binchin (Brunei Darussalam), Dr. Mawar Safei (Malaysia), dan Jamal Ismail (Singapura). Mereka semua adalah para sastrawan yang sudah teruji kematangan proses kreatifnya.  “Semoga para sastrawan muda ini bisa maksimal sekaligus memberikan corak, cara, ide, serta gagasan karakter masing-masing. Pertemuan kreatif dari empat negara ini, saya rasa dapat menjadi momentum terbaik untuk memperkaya pengalaman masing-masing,” kata Yanusa. (GH/FM)

Artikel Terpopuler