Ada anggapan bahwa sastra hanya muncul secara tekstual dalam bentuk novel, cerpen, puisi, atau drama. Anggapan itu tidak sepenuhnya benar karena sastra ternyata telah melampaui batas tekstual. Beralihnya sastra ke media lain melampaui batas tekstual kita kenal sebagai alih wahana. Alih wahana dalam sastra itu sekaligus menandai bahwa (karya) sastra memiliki potensi dalam pengembangan ekonomi kreatif.
Kontribusi sastra dalam pengembangan ekonomi kreatif, antara lain, tampak dalam industri rekaman. Selama beberapa dasawarsa ini dunia musik pop kita mengalami hiperinflasi cinta dengan ekspresi lirik yang sangat dangkal. Beberapa musisi yang berkolaborasi dengan beberapa penyair telah melahirkan penggarapan lirik yang lebih kaya imaji dan terasa lebih puitis. Lirik lagu-lagu Franky & Jane, misalnya, digarap oleh penyair Yudhistira dan lirik lagu-lagu Bimbo digarap oleh Taufiq Ismail. Di layar televisi juga pernah hadir beberapa sinetron yang diangkat dari novel periode Balai Pustaka, seperti Siti Nurbaya, Sabai nan Aluih, dan Tenggelamnya Kapal van der Wijck. Pada dasawarsa 1970-an dan 1980-an juga tercatat sejumlah novel yang difilmkan, seperti Karmila, Cintaku di Kampus Biru, dan Kabut Sutra Ungu.
Alih wahana sastra tidak hanya muncul dalam lagu dan sinetron, tetapi juga hadir dalam wujud larik-larik sajak di kaos atau kartu undangan pernikahan. Bahkan, pada akhir Orde Baru, salah satu larik sajak Wiji Thukul (penyair yang hilang tak tentu rimbanya) “hanya satu kata, lawan!” telah menjadi yel dan mantera perjuangan yang ampuh di arena unjuk rasa untuk menumbangkan rezim Orde Baru.