Judul: Kesetiaan Berbahasa Etnik Sunda di Daerah Istimewa Yogyakarta Bahasa Sunda Pemakaian

Penulis: Deni Karsana

Subjek: Sosiolinguistik

Jenis: Tesis

Tahun: 2009

Abstrak

Tesis ini bertujuan memerikan situasi kebahasaan etnik Sunda yang tinggal di perantauan, khususnya di DI Yogyakarta; mendeskripsikan tingkat kesetiaan; memerikan faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya situasi kebahasaan dan tingkat kesetiaan bahasa, sekaligus melihat pemetahanan bahasa etnik Sunda yang tinggal di perantauan, khususnya DIY. Penelitian ini dikaji berdasarkan pandangan para ahli yang berkaitan dengan kesetiaan berbahasa dengan masyarakat multibahasa dari perspektif linguistik, khususnya mengenai bahasa Sunda, yang dijadikan sebagai pilihan kajian pustaka dalam mengkaji fenomena kebahasaan yang lain. Anderson (1974:47) membagi sikap menjadi dua jenis, yaitu sikap bahasa dan sikap nonbahasa, seperti sikap politik, sikap sosial, dan sikap estetis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan yang berarti penulis langsung terjun ke dalam daerah penelitian untuk mengumpulkan data.

Penelitian lapanagan dapat juga dianggap sebagai pendekatan luas dalam penelitian kualitatif atau sebagai metode untuk mengumpulkan data kualitatif. Dengan metode ini penulis secara lang sung memperhatikan, mendengar dan mencatat data yang terdapat di lapangan. Teknik yang dipakai adalah teknik wawancara, pengamatan, dan kuesioner yang disebarkan. Populasi dalam penelitian ini adalah etnik Sunda yang tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain itu, kota Yogyakarta merupakan kota besar yang menarik minat orang dating untuk berusaha, tanpa kecuali etnik Sunda pun' hadir memenuhi tuntutan tersebut. Kabupaten Bantul dipilih karena daerah Bantul merupakan daerah pinggiran yang banyak terdapat etnik Sunda yang tinggal dan berusaha. Untuk mengetahui tingkat kesetiaan berbahasa etnik Sunda diperlukan pengunan terhadap responden.

Responden dipilih dari dua kalangan yang hadir di DIY. yaitu kalangan terpelajar dan kalangan usahawan. Etnik Sunda yang tinggal di DIY tingkat kesetiaan berbahasa atas bahasa Sunda cukup tinggi. Pemakaian bahasa Sunda secara intensif dilakukan pula di luar ranah rumah pada percakapan intrasuku. Pemakaian bahasa Indonesia mendominasi sebagai bahasa persatuan, digunakan untuk pembicaraan antarsuku. Pemakaian bahasa Jawa mulai muncul pada ranah usaha, yang digunakan bila ada kepentingan tertentu. Penggunaan bahasa Sunda, Indonesia, dan Jawa oleh etnik Sunda disesuaikan dengan fungsi dari bahasanya masing­masing. Penggunaan bahasa Sunda, Indonesia, dan Jawa oleh etnik Sunda di DIY juga melihat situasi dan kondisi yang terjadi dan didasarkan atas alasan tertentu. Sikap yang ditujukan etnik Sunda mencerminkan kesetiaan bahasa yang cukup tinggi atas bahasa Sunda, sebagaimana terlihat dari indikator-indikator yang diujikan kepada responden. Indikator yang diujikan adalah senagai berkut. 1) tanggapan atas pengadaan lembaga khusus yang melestarikan bahasa Sunda, 2) tanggapan atas tidak digunakan bahasa Sunda dan digantikan dengan bahasa Indonesia, 3) tanggapan adanya sekolah khusus yang memberikan pelajaran bahasa Sunda, 4) tanggapan atas melihat gejala memudarnya penggunaan bahasa Indonesia, dan 5) melihat kecenderungan orang tua menyekolahkan anak. Ada beberapa factor yang berpengaruh terhadap siatuasi dan kesetiaan berbahasa etnik Sunda di DIY, yaitu faktor yang bersifat linguistis, sosioluistis, dan sosiologis dan psikolinguistis. Faktor yang bersifat linguistis adalah kemampuan berbahasa secara umum, khususnya kemampuan berbahasa Sunda dan penggunaannya. Faktor sosiolinguistis seperti adanya bilingualism yang mengakibatkan munculnya kontak bahasa, alih kode, dan campur kode. Ada dua jenis kesetiaan berbahasa etnik Sunda terhadap bahasa Sunda. Pertama, jenis kesetiaan bahasa yang dipandang dari segi penggunaan praktis, dan yang kedua merupakan bentuk kesetiaan yang berawal dari unsure psikis. Ditinjau dari segi penggunaan praktis dapat dikatakan bahwa kesetiaan bahasa warga etnik Sunda di DIY.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kesetiaan bahasa yang tinggi oleh seseorang atau suatu masyarakat terhadap suatu bahasa, tidaklah dengan sendirinya menjadi bahasa yang sering dipakai oleh mereka. Dengan kata lain, tingginya frekuensi pemakaian sebuah bahasa oleh seseorang atau masyarakat belum menjamin bahwa seseorang atau niasyarakat tersebut mempunyai kesetiaan bahasa yang tinggi terhdap bahasa itu. Kesetiaan berbahasa member pengaruh pada upaya pemertahanan bahasa. Kesetiaan berbahasa yang tinggi member dampak yang positif pada pemertahanan bahasa. Kesetiaan berbahasa yang tinggi pada etnik Sunda di DIY memperlihatkan adanya pemertahanan bahasa Sunda (ALOY)